Ada seorang penjual eskrim keliling yang biasa lewat di depan rumahku.  Ia sangat ramah dan komunikatif. Cara berdagangnya begitu sederhana namun cukup memikat. Berbekal gamelan kecil yang dia bunyikan sepanjang perjalanan, es krimnya pun menjadi penantian para ibu-ibu dan anak-anak, bahkan terkadang juga bapak-bapak yang tengah beristirahat siang selepas dari bekerja di sawah atau dari kantor.

Eskrimnya sangat enak. Kata sang Bapak, dia membuatnya sungguh-sungguh dengan komposisi yang tepat. Bahkan dia memilih tidak menggunakan pemanis buatan sehingga rasa manis eskrimnya tidak terlalu menggigit. Dengan terbuka beliau selalu mengatakan itu. Mengapa? Karena anaknya juga penyuka eskrim, dan tentunya beliau tahu bahwa menggunakan pemanis buatan itu tidak baik untuk kesehatan. Yah, eskrimnya memang enak. Sampai-sampai salah satu adikku ada yang pernah makan 2,5 gelas alias setengah liter eskrim. Hemm, geleng-geleng kepala, ga takut ya kalau nanti jadi gendut.

Kemarin aku sempat mengobrol lama waktu dia menunggu pembeli dari para mahasiswa FE yang ikut upgrading BEM. Beliau bercerita bagaimana dulunya merintis usaha itu, mengembara dari kota ke kota. Dari Tulungagung, ke Semarang, hingga akhirnya tinggal di desa sebelah. Prinsipnya dia jelas, lebih baik bekerja setiap hari dan mendapatkan keuntungan hidup dengan selalu dekat dengan keluarga. Karena profesi penjual eskrim, cilok dan sejenisnya di mata masyarakatku hari ini sering dikategorikan sebagai profesi rendahan dan kurang bermartabat. Tapi aku salut dengan pilihannya untuk terus melayani masyarakat meskipun harus berjalan di terik matahari, atau terkadang merugi jika langit mendung tiba-tiba.

Jika musim penghujan tiba, maka dia alihkan profesinya untuk berjualan somay. Masih sama prinsipnya dan sangat sederhana, bekerja setiap hari untuk mencari sumber kehidupan yang halal namun tetap dekat dengan keluarga. Aku salut dan terharu dengan pengisahannya. Bagaimana dengan keterbatasan modal dan sarana yang dimiliki, tentang pendapatan dan tuntutan hidup yang terkadang tidak seimbang. Itu menjadi kisah berharga agar aku lebih bersyukur dengan anugerah yang kuterima hingga hari ini.

Mungkin permasalahan kemiskinan negeri ini tidak selamanya selesai dengan berbagai formula dan mekanisme pemerintah yang rumit. Jika hari ini masih banyak pengangguran terdidiknya, apalagi yang tidak terdidiknya, mungkin kita perlu pertanyakan, apakah tidak ada yang dapat Anda kerjakan. Untuk menyambung hidup, bukankah semua pekerjaan itu mulia, yang penting halal dan tidak menzalimi orang lain. Berpikir sederhana seperti penjual eskrim tadi “bekerja setiap hari, mengais rezeki yang halal, dan selalu dekat dengan keluarga”.

Dan semua itu akan bermuara pada kecukupan hidup yang itu artinya adalah ketenangan yang tiada taranya. Hidup yang cukup karena memahami arti perjuangan, itulah mutiara terindah yang seharusnya kita genggam. Jika hari ini aku masih risau dengan nasib hidupku di hari depan, mungkin aku termasuk orang yang malas. Semoga aku tidak termasuk daftar pengangguran berikutnya setelah lulus dan wisuda nantinya.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.