Setiap mau mengawali Ramadhan, umat Islam di Indonesia harus selalu beradu pendapat mengenai hisab dan rukyat. Hingga seringnya keduanya kemudian berbeda memutuskan untuk memulai ibadah puasa. Berikut shalat Ied-nya. Sehingga sering muncul kelakar dari kami, para orang-orang GJ. “Hei Bro, ente ikut puasanya pemerintah atau swasta?”. Pemerintah? Swasta? Itu hanya istilah untuk sebuah kelakar yang tidak memiliki maksud apa-apa selain lebih untuk mencairkan suasana. Dari pada ribut dan debat tidak jelas.

Singkat cerita, hal serupa rupanya seperti beresonansi pada Ujian Nasional. Terlepas sebabnya memang berbeda dan tidak ada hubungannya. Aku lebih memilih menggunakan pendekatan fisika (meskipun sepertinya tidak bermutu). Yah, istilahnya efek beda waktu Ramadhan itu akhirnya beresonansi dan menimbulkan efek beda waktu UN di tanah air. Ada yang mulainya Senin (15/4/2013) ada juga yang baru Kamis (18/4/2013) kemarin. Dan sepertinya menjadi WOW banget kalau membaca pemberitaan media massa (karena aku juga turut membuat liputannya).

Aku memaksakan diri untuk membawa konteks fisika di sini karena berbagai kekacauan yang terjadi di Indonesia hari ini karena sebuah proses resonansi. Pemimpin yang kehilangan kepemimpinannya berujung pada hilangnya kewibawaannya. Efeknya berimbas pada ketidakpercayaan masyarakat kepada para pemimpin bangsa ini. Pemimpin tidak kompak, rakyat juga tidak kompak, akibatnya system-sistem yang bekerja tidak kompak. Jadilah Indonesia ini benar-benar BHINEKA TUNGGAL IKA, masalahnya TUNGGAL IKA-nya tidak mencerminkan sebuah “kesatuan”, tetapi hanya menunjukkan bahwa yang beda-beda dan tidak karuan itu berada di dalam “satu” nama, Indonesia.

Hal itu sangat mudah dilihat dari investigasi di lapangan. Katanya, keterlambatan ujian nasional di 11 provinsi itu karena pasokan soal yang terlambat. Ketika ditanya siapa pemasuknya, PT yang dapat tender itu mengaku dikasih draft soalnya terlalu mendadak. Ketika ditanya makin ke atas, yang ditemui adalah kilah dan alasan. Entahlah bahkan sepertinya belum ditemukan secara jelas ada salah satu yang keluar jalur dan bilang SAYA YANG SALAH KARENA TIDAK DAPAT BEKERJA SESUAI DENGAN TARGET YANG DIHARAPKAN.

UN tahun ini katanya kacau dan parah, aku tidak mau bilang begitu. Tetapi negeri kita sedang dikacaukan, dan sayangnya kita mau-maunya ikut jadi pengacau. Sudahlah, tidak perlu menyalahkan siapa-siapa. Kalau ada yang punya adik mau UN, ajak bermain biar ga tertekan. Kalau punya murid yang mau UN, jangan malah ikut-ikut stress, hibur mereka. Kalau jadi kepala dinas pendidikan, siap-siap panggil tukang pijit setelah UN berakhir, karena Anda harus bekerja keras sebelumnya. Semua menjadi ladang pahala masing-masing, kecuali bagi para pengumpat dan pencela. Kasihan, mulutnya udah bentuknya jelek kalau mengumpat, yang keluar nyampah pula. Dan bagi Anda yang kena semprot, mari ucapkan terima kasih sambil dibersihkan pakai tisu.

4 Comments

    1. Yuli Ardika Prihatama

      Ha ha ha, itulah mbak realita manajemen kacau tahun ini. Tapi memang sekarang soalnya ada 20 variasi mbak, ga hanya 2 jenis seperti dulu. Jadi tiap kelas ada 20 soal berbeda (katanya) dan kodenya ada masing2, jadi mungkin kalau siswanya tidak jeli mereka akan bingung kalau mau berbagi jawaban juga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.