Di postinganku sebelumnya, hasil copas dari sebuah blog, aku terkesan sekali dengan paragraf,

“Dik, ……….saya ini memulai segala sesuatunya dari bawah, sampai saya ditunjuk menjadi Wakil Dirut perusahaan terkemuka di Jerman dan akhirnya menjadi Presiden RI, itu semua bukan kejadian tiba-tiba. Selama 48 tahun saya tidak pernah dipisahkan dengan Ainun, ………..ibu Ainun istri saya. Ia ikuti kemana saja saya pergi dengan penuh kasih sayang dan rasa sabar.

Dik, kalian barangkali sudah biasa hidup terpisah dengan istri, you pergi dinas dan istri di rumah, tapi tidak dengan saya. Gini ya…………saya mau kasih informasi……….. Saya ini baru tahu bahwa ibu Ainun mengidap kanker hanya 3 hari sebelumnya, tak pernah ada tanda-tanda dan tak pernah ada keluhan keluar dari ibu……………………”

Menurutku ini salah satu inspirasi penting yang kudu dicatet bagi para bujangan yang lagi nyari pendamping. Setidaknya kisah Habibie-Ainun ini adalah potongan puzzle super kecil dari kehidupan Rasulullah dan Khadijah, kemudian Ali dan Fatimah dan banyak pasangan-pasangan orang-orang utama terdahulu. Di sini, aku tidak ingin berbicara bagaimana proses teknisnya, tetapi prinsip hidup yang dipegang para wanita itulah yang sangat mudah akan menjadi pertimbangan kita (para laki-laki) memilih.

Ketika wanita itu mementingkan karirnya melebihi tanggung jawabnya ketika telah menjadi istri, maka sepertinya itu akan menjadi awal kekacauan yang hari ini sering dijumpai dengan mudah di koran dan televisi. Termasuk prinsip dalam Islam, sebuah pertanyaan untuknya, siapakah yang akan akan lebih ia taati setelah menikah, suaminya atau orang tuanya? Jika ia mengerti betul ajaran agamanya maka ia akan memberikan jawaban yang tepat atas pertanyaan yang sangat prinsip itu.

Dan di dalam kalimat beliau itu pula, tersirat bahwa alm. Ibu Ainun adalah sosok wanita yang sangat kuat. Kekuatannya mengimbangi visi besar sang Habibie hingga setiap mimpi dan kerja kerasnya selalu ada Ainun di sisi. Aku membayangkan ketika diriku kelak juga selalu ditemani sang istri yang setia seperti itu, pasti akan semakin bersemangat. Ini bukan tentang masalah istri yang mengalah, tapi ada sebuah komunikasi yang selalu disepakati dan kaidah berumah tangga bagaimana istri menaati suami dalam sebuah visi besar dan dalam kebaikan. Kekuatan sang istri yang memang ada batasnya ini, baru membuat Habibie tersadar bahwa ada saatnya Allah membuka apa yang ada dibalik kekuatan istrinya selama ini.

Aku bersyukur, sejak mengenal dakwah sekolah, Allah telah mengarahkan hidupku untuk sebuah visi dan idealisme yang besar. Allah mempertemukanku dengan banyak guru untuk belajar. Prinsipnya aku berhak untuk belajar pada siapa pun, di manapun dan kapan pun. Belajar bukanlah sebuah indoktrinasi, belajar adalah proses untuk mengerti hingga sampai derajat memutuskan apa yang terbaik untuk hidup kita, maka menjadi pemimpin melakukan ini itu pada prinsipnya kembali ke diri kita masing-masing. Jika belajar hanya sampai tahu, maka kita akan bodoh dan dimanfaatkan orang lain. Belajar itu adalah untuk memutuskan sebuah pilihan hidup, khususnya pilihan hidup di akhirat nanti.

Termasuk mencari pendamping hidup kelak, maka ia bagian dari belajar dan memutuskan siapa yang paling tepat mendampingi perjuangan ini. Ia bukan sekedar masalah cinta, apalagi jatuh cinta. Banyak pasangan muda yang berasyik masyuk hingga lupa apa visi mereka kemudian. Manis sesaat dan sesalnya sampai kiamat. Maka kalau pun kita berkeinginan dengan seseorang, maka visi hiduplah yang menjadi prinsipnya. Karena mengutip nasihat ust. Salim, cinta itu diupayakan, cinta itu dibangun, jadi bukan lagi “jatuh cinta“, tapi “bangun cinta“, maka kelak bangunan cinta itu akan membawa para pembangunnya ke syurga.

Lantas bagaimana meraihnya? Yah belajar dan bertanya pada yang sudah mengalami saja dong. Ini bukan masalah menyodorkan proposal atau malah membuat ikatan janji lebih awal. Ini masalah kejujuran, kejujuran untuk benar-benar memilih pendamping hidup yang tepat. Aku pun tidak bisa memutuskan sekarang bagaimana caranya, karena memang belum berkeinginan sebelum mimpi prasyaratnya tercapai. Hanya aku berjanji kepada diriku sendiri, bahwa aku akan melakukan dengan cara yang terbaik. Insya Allah.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.