Intinya hari ini aku mengepel masjid bersama beberapa adik remaja masjid. Dari yang agak kecil hingga yang udah kawak. Bayangin masjid yang berukuran 12 x 12 m hanya dihandle oleh 6 orang yang terdiri dari 4 putra dan 2 putri. Padahal harus mengepel dan mencuci semua karpet yang menutupinya. Gila dan ternyata bisa! Alhamdulillah pekerjaan selesai sebelum dzuhur.

Dan bukan itu yang penting dalam tulisan ini. Tetapi adalah pembicaraan yang berhasil ku lakukan dengan satu mantan anak remas yang baru sehari kemarin datang dari perantauan. Bagaimanapun, aku mengenal siapa dia di masa lalu, dan mungkin hingga kini bekas-bekasnya masih ada. Tapi aku melihat ada perubahan yang cukup signifikan dibanding sebelum dia mengalami sebuah peristiwa naas yang merubah hidupnya kini.

Bagaimanapun sifat masa lalunya dominan, tapi aku melihat sisi interest yang berbeda dari dirinya. Dari orang yang awalnya anti kegiatan masjid, sekarang menjadi peduli bahkan bersedia berpayah-payah untuk membantu kami bekerja. Adalah hal yang sudah hilang dan bukan merupakan tradisi orang kota di daerahku ketika pulang mereka mau memberi perhatian seperti saat mereka menjadi remas dahulu. Itu menjadi sesuatu banget bagiku.

Semua orang punya hak untuk berubah menjadi baik. Bagaimanapun bentuknya dan bagaimanapun caranya. Bahkan seperti temanku ini yang dulu mungkin menjadi ikon tersendiri di masyarakat, dan mungkin ikon tersebut tetap melekat hingga kini. Aku berharap pembicaraan kami hari ini dan beberapa kesempatan sebelumnya benar-benar bisa menjadi suatu komitmen bersama di masa depan. Ahaa, lagi-lagi aku mau bilang, aku rindu membangun tanah kelahiranku ini. Semoga bisa! Amiin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.