Malam ini suasana kultum shalat Tarawih di masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq terasa berbeda dari biasanya. Imam dan pembicara tarawih malam ini memiliki style yang berbeda dari kebanyakan pembicara biasanya. Santai pembawaannya dan materi yang disampaikannya juga spesial.

Pada intinya beliau lebih mengajak untuk refleksi bersama-sama tentang rasa syukur kepada Allah dan menjalankan ketaatan. Dan dari sekian ceramahnya yang cukup panjang itu, ada tiga hal saja yang perlu kita perbaiki jika umat Islam ini ingin bangkit menjadi khairu ummah.

Pertama, menghidupkan lagi nilai kejujuran. Bahwa persepsi umat Islam tidak jujur pada hari ini bukanlah hal yang baru lagi. Bahkan kita memang seringkali tidak pernah jujur terhadap diri kita sendiri. Apakah kita sebenarnya sungguh-sungguh ber-Islam atau tidak. Seringkali Islam KTP menjadi label yang paling mudah kita jumpai. Dan buktinya sangat gampang dilihat bagaimana masjid sering kosong ketika shalat 5 waktu atau zakat yang tidak pernah terkumpul seperti potensi yang berhasil dikalkulasi.

Bahkan sekiranya pemerintah Indonesia memberlakukan syariat Islam saat ini (maka tentu yang terkena hukum syariat ini adalah umat Islam sendiri, bukan umat yang lain), maka yang protes paling banyak mungkin justru kebanyakan umat Islam yang memang belum “mau“ jujur terhadap dirinya untuk ber-Islam dengan baik. Maka tidak usah heran jika isu FPI di Kendal, banyak juga umat Islam yang buru-buru menyumpah serapahinya dengan amat keji tanpa ada klarifikasi agar mengetahui duduk persoalannya. Yah begitulah kita, suka makan daging saudara sendiri. Jadi, mari jujur dengan diri kita sendiri.

Kedua, menghidupkan lagi kedisplinan. Tidak perlu jauh-jauh sampai pada masalah shalat di awal waktu untuk selalu standby di masjid, rutin shalat 5 waktunya saja mari kita cek untuk diri masing-masing. Sudahkah kita disiplin mengerjakannya, 5 kali sehari. Kemudian shalat jumat rutin. Kemudian tilawah Quran setiap hari. Kemudian amalan-amalan sunnah lainnya, seperti bersedekah, tebarkan salam, senyuman, dan berakhlak mulia.

Ketiga, menggalang persatuan. Ini hal yang paling berat dan paling merepotkan. Seringkali semboyan Bhineka Tunggal Ika, yang sejatinya itu semboyan kebangsaan Indonesia menjadi alasan bagi kalangan sesama umat Islam untuk menyuburkan perbedaan dalam keyakinan mereka. Tak jarang pula muncul tokoh-tokoh yang dipandang sebagai ulama, atau mungkin dipaksakan media sebagai ulama tapi justru membuat berbagai pernyataan aneh yang tidak mencerminkan kedalaman ilmunya sebagai ulama.

Bahkan di tataran akar rumput, sering kali masjid-masjid itu tidak bisa mengakurkan jamaahnya untuk ibadah-ibadah yang sifatnya kolektif seperti shalat Ied. Apalagi untuk membahas masalah sadar zakat nasional, penduli kaum dhuafa, dan peduli pendidikan. Dan ini sebuah refleksi betapa keegoisan itu masih menjadi salah satu penyakit umat Islam sehingga keindahan masyarakat yang pernah terjalin di negara Madinah saat Rasulullah masih hidup belum dapat terwujud. Bagaimana saat itu mayoritas umat Islam bisa hidup damai dengan kaum Nashrani dan Yahudi, sebelum akhirnya Yahudi berkhianat dengan menyerang kaum muslimin dari dalam kota disaat Madinah di serang oleh para kabilah Arab dan mereka menerima hukuman berat atas pengkhianatannya.

Tiga hal saja yang perlu kita upayakan agar umat Islam menjadi khairu ummah. Jika di antara kita saja masih ada yang tidak yakin dengan kemuliaan Islam, bagaimana umat lain akan mengakui bahwa umat Islam adalah umat yang baik dan bisa berdampingan hidup dengan mereka.

2 Comments

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.