Siang tadi secara tidak sengaja aku dapat kesempatan menyusup pelantikan takmir masjid Nurul Huda UNS. Karena banyak dari anggota takmir yang tidak hadir sehingga kursi-kursinya masih ada yang kosong. Alhasil, aku dan satu adikku AAI bisa masuk dan mengikuti pelantikan yang juga dihadiri oleh Buya Syafii Maarif, Mantan Ketua PP Muhammadiyah dan pendiri Maarif Institute.

Sosok yang kini menjadi salah satu tokoh nasional dan akrab disapa guru bangsa tadi menjadi khatib waktu shalat Jumat. Kali ini beliau pun memberi petuah kepada para dosen dan mahasiswa yang menjadi takmir masjid Nurul Huda UNS.

Beliau terheran-heran waktu mendengar ada tim takmir yang khusus mengurusi masalah tahfidz alias hafalan Quran bagi mahasiswa. Secara, kampus ini adalah kampus negeri, tetapi hal itu bisa terealisasi. Maka beliau memberi apresiasi positif atas hal itu dan berharap para pengurus bisa menjadikan masjid Nurul Huda sebagai tempat yang nyaman bagi siapa saja yang ingin beribadah dan belajar tentang Islam.

Ada pun pesan yang beliau sampaikan adalah umat Islam harus berintrospeksi diri untuk lebih memandang dirinya sendiri sebelum banyak mengklaim dan saling menyalahkan satu sama lain. Dengan tegasnya beliau mengatakan bahwa umat Islam saat ini sedang rapuh karena ketidakdewasaan sikap mereka, khususnya dalam menanggapi perbedaan yang terjadi. Di tengah kepungan musuh yang terus mencuri kekayaan negeri-negeri muslim, umat Islam tidak justru membangun persatuan tetapi terlalu sibuk untuk bermusuhan satu sama lain.

Ada nuansa yang terasa berbeda ketika memang yang berbicara seorang tokoh sekaliber beliau. Aku sendiri hampir tidak menguap sedikitpun. Ini hal langka yang kualami di sebuah forum yang biasanya rasa kantuk seakan akrab bersamaku. Terima kasih Buya atas kunjungannya ke UNS.

Dan hal konyol yang dia sampaikan di akhir, beliau lebih memilih kereta api jurusan Jogja – Solo dari pada diantar menggunakan mobil. Selain efisien waktunya beliau tidak mau terganggu dengan 44 lampu merah (demikian kata beliau). Ah aku jadi ingat bagaimana memang seorang tokoh mulai mencontohkan sikap hidup seperti ini yang pro dengan pelayanan publik.

5 Comments

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.