Makan Malam & Perpisahan dengan Master San Chahua

Sambil hujan-hujanan, kami berjalan dari stasiun Hang Tuah ke Purple Cane Restaurant. Kali ini kami tidak ke restorannya, tetapi ke kantor pusat penjualan tehnya di lantai dua. Di sana kami menemukan nuansa yang begitu damai dengan alunan instrument klasik dan aroma teh yang enak. Pajangan aneka macam keramik semakin menambah suasana hati kami terobati setelah bosan berlama-lama di hotel mewah Shangrila.

Kami dikenalkan dengan dua master tea asal Malaysia dan Yunan China. Karena semua menggunakan bahasa Mandarin aku jadi lupa namanya. Intinya menghafal nama-nama dengan bahasa Mandarin itu cukup susah dilakukan. Kami tidak peduli, karena agenda sore hari ini kami menikmati sajian aneka teh kelas tinggi. Kalau aku beli sebagai konsumen bisa-bisa kantongku langsung ludes hanya menikmati bercangkir-cangkir teh pada waktu sore itu. Untunglah semua itu gratis buat kami.

Setelah berbincang-bincang banyak hal, master Shan Chahua mengajak kami berempat untuk makan malam bersama di restorannya. Lagi-lagi kami kembali ke Purple Cane Restaurant. Ihirrr, wajah salah satu gadis Tionghoa yang kulihat tadi malam kembali hadir menyapa kami. Eh, kok aku berlagak seperti Ikal di Laskar Pelangi ya. Finally, aku segera duduk manis menanti hidangan super mewah dan paling berkelas yang tidak mungkin akan kubeli hari itu jika aku hanya sekedar ingin makan malam.

Sebagaimana telah kujelaskan di waktu sebelumnya, Master San Chahua sangat mengerti keberadaan orang Malaysia dengan menyajikan makanan yang halal. Kami percaya dengan kesungguhannya meskipun hingga hari ini bisnisnya terkendala dengan sertifikat halal akibat diskriminasi tersebut. Dan di mana-mana tetap saja sama, jika ingin dapat maka diminta menyuap. Tapi itu tidak dilakukannya. Restoran beliau tidak ada yang menggunakan daging babi, semuanya berbasis sayuran dan teh untuk membuat aneka hidangannya lezat termasuk daging ayam, bebek, hingga sapi yang dihidangkan kepada kami.

Makan malam hari ini adalah perpisahan kami dengan Master San Chahua. Pasalnya besok beliau akan bertolak ke China dan Hongkong dalam kunjungan bisnisnya. Maklum, restoran dan outlet tehnya telah tersebar di beberapa cabang lintas negara. Tapi belum sampai ke Indonesia. Mungkin masuk akal, karena menjual sebungkus teh dengan harga jutaan hingga ratusan juta rupiah adalah hal “kenthir” di mata orang-orang Indonesia yang masih perlu banyak banyak belajar tentang seni mengkonsumsi teh dan khasiatnya. Terima kasih master atas sajian makan malam mewahnya. Meskipun harus menggunakan sumpit dan begitu payah memasukkan butiran nasi ke mulut, setidaknya waktu yang cukup panjang mampu membuatku memasukkan banyak makanan untuk stok energi hingga besok siang. He he

bersambung …

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.