Pengalaman adalah guru yang paling baik

Pimnas 2012 telah usai dan diputuskan bahwa Universitas Brawijaya sebagai juara umum. Bagaimana dengan UNS? Yah masih ada tahun depan. Begitulah jawaban yang bijak (atau dari pusing) mengingat tak satupun medali tahun ini diraih selain hanya juara favorit. Dan aku tidak mau berpusing ria tentang masalah itu, karena waktu ke UMY aku datang sebagai penonton. Secara, aku sudah menjadi anti PKM sejak kenal dengan dunia per-SPJ-an keuangan kampus.

Jalan-jalan

Aku ke UMY tidak sendirian. Ada serombongan skuadku SIM yang turut di sana. Yah, kami ingin refreshing plus mencoba mencari inspirasi baru bagaimana belajar dan bagaimana menemukan titik permasalahan mendasar di organisasi yang saat ini sedang kami jalani. Apa pun itu, aku ke sana ingin mencari suasana berbeda saja dari kampus yang udah 4 tahun ku tempati dan telah membuatku bosan.

Ketika aku sampai di gerbang depan, seperti sebelumnya aku berdecak kagum dengan tata ruang kampus yang begitu indah (menurutku cukup bisa bersaing dengan ITB, meskipun kayaknya kalah deh). Kalo dibandingkan dengan kampusku sendiri, yah mungkin kampusku kayake harus beli tanah baru deh dan bangun gedung baru yang seragam agar khas. Tapi aku ga ingin bicara lebih jauh lagi, bagaimanapun kampusku tetap yang terbaik. Madrasah kehidupan terutama dalam menjaga akhlak di sini lebih top dah.

Sejiwa dan Berciri Khas

Kalo dilihat semuanya, bangunan di beberapa kampus yang pernah kukunjungi seperti UGM, ITB dan UMY mereka menunjukkan adanya sebuah keteraturan perencanaan yang matang dalam membangun sarana dan prasarana kampus. Aku tidak tahu apakah kontraktor yang membangun gedung-gedung dan tamannya adalah kontraktor yang sama atau berbeda. Dari pada debat, aku ambil asumsi bahwa kontraktor yang membangun setiap tahun berbeda (secara, pembantu rector/ dekan bidang sarpras kan pasti buat lelang tahunan).

Nah, yang menarik dari kampus-kampus yang disebutkan di atas, bangunan-bangunannya memiliki ciri khas dan memang mencerminkan adanya master plan yang jelas. Dilihat dari sudut pandang keteraturan jelas bagus. Dilihat dari aspek kemewahan, pasti. Dilihat dari karakternya jelas dapat. Setiap bangunan di sana mengisyarakatkan sebagai ikon yang akan mengasosiasikan pikiran kita dengan nama kampusnya.

Bagaimana dengan UNS? Aku sangat menyayangkan proses pembangunan kampus yang menurutku jauh dari keteraturan dan sepertinya tidak ada master plan yang jelas. Padahal sebenarnya area kampus UNS itu sangat apik untuk disetting sebagai kampus alam yang katanya hijau nan teduh. Teduh, karena memang pepohonannya rindang, teduh karena memang masih memegang kuat adat ketimuran yang santun. Tapi lihat bagaimana pembangunan yang ada justru telah mengorbankan puluhan pohon yang dulunya menghijau. Gedung-gedung serba tidak teratur dan bermacam-macam tanpa sebuah karakter. Mungkin cuma gedung dekanat FKIP dan rektorat yang sampai sekarang membuatku berkesan dan memiliki asosiasi yang kuat akan kampus UNS.

Jadi masukanku kepada Bapak-Bapak yang pegang uang banyak, mbok ya dibuat masterplan yang jelas dan terencana, kalau perlu bayar lebih kontraktornya agar mau membuat gedung-gedung yang elegan dan memiliki karakter dan ciri khas sebagai kampus UNS.

Green-Campus dan Eco-Campus

Ini agak menyimpang dan tidak terkait dengan masalah pimnas maupun UNS. Aku hanya teringat protes pak Dr. Sutanto, DEA waktu mengisi lokakarya jurnal ilmiah di ruang sidang IV rektorat. Beliau mengatakan kurang lebih seperti ini, Negeri kita itu kaya sinar matahari, kenapa kita justru buat ruangan yang gelap-gelapan gini dan harus pake lampu lagi. Dimana sisi eco-campus kita. Bukankah menyalakan lampu di siang hari sama halnya dengan buang-buang energi. Trus itu yang pada jadi aktivis, mbok ya sudah jangan banyak mubes melulu, ntar jadi mubeng lagi. Ga sopan banget, mereka hampir 3 hari debat kusir masalah lingkungan di lantai 2 dengan lantangnya, sementara saya bersama petugas kebersihan kampus sedang memunguti sampah yang dibuang mahasiswa secara sembarangan di lantai bawah. Naif dan aneh. Udah, turun dan kerjakan, ga usah banyak berdebat kalo tidak penting.

Terlepas cerita tersebut benar-benar terjadi atau tidak bagiku tidak penting. Apalagi jika cerita itu terbukti benar, persis seperti yang beliau katakan. Kita harus segera istighfar dan mengelus dada. Memang, mahasiswa terkadang hanya pandai berwacana tetapi rendah aksi dan implementasi. Maka sudah saatnya kita berpikir lebih visioner untuk mewujudkan kampus yang bener-bener ideal dan memiliki karakter dasarnya. Bukan kampus yang tidak jelas arah prestasinya.

Aku rasa UNS bisa menjelma menjadi kampus besar seperti yang lain jika para penghuninya mau sedikit meluangkan waktu untuk banyak “jalan-jalan” ke luar untuk melihat inovasi-inovasi yang berkembang untuk dijadikan inspirasi dalam menciptakan gagasan-gagasan perbaikan kampus yang bermanfaat. Meraih berbagai prestasi dan berbagai penghargaan, bagiku lebih hanya sekedar dampak atas sebuah usaha. Maka tinggal kita memikirkan sebuah usaha nyata atau pura-pura. Kita sendiri yang harus menjawab, berbuat karena cinta, atau sekedar berbuat untuk menyenangkan pihak-pihak yang berkepentingan.

Tak masalah tahun ini tak dapat prestasi di PIMNAS, yang penting para dosen dan mahasiswanya mau berpikir bahwa pencapaian prestasi itu adalah kerja tim yang solid, bukan individu yang cerdas. Selagi poster masih memberatkan tim PKM yang memang tidak kenal desain grafis, selagi presentasi masih jadul karena minimnya pemahaman tentang dunia animasi dan flash, selagi cara berbicara masih seperti anak SMA yang ketakutan bertemu gurunya, rasanya mahasiswa UNS masih akan sering dipandang sebelah mata, kecuali ada yang segara bangkit untuk menantang berbagai keunyuan di kampus, menjadi lebih beringas dan bergegas membuat perubahan. Kita punya ahli2 desain grafis, ahli animasi dan berbagai potensi yang seharusnya dikerahkan oleh kampus untuk mendukung kemenangan PIMNAS dan berbagai kompetisi yang lain. Maukah? Sambil mengajak bapak-bapak di birokrasi, yuk kita buktikan kalo kita mau banyak berkenalan dan berteman dengan banyak orang.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.