Negara versi Dengkulku

Setahu saya, negara itu eksis jika memiliki wilayah, rakyat, dan pemerintah yang berdaulat, serta mendapatkan pengakuan dari negara lain. Dari keempat unsur itu, tiga unsur bersifat internal dan riil. Artinya wilayah (darat laut seisinya), rakyat (SDM dan produktivitasnya), dan pemerintah (SDM dan produktivitasnya) adalah aset riil yang dimiliki sebuah negara. Menurut wikipedia, luas wilayah darat […]

Nggak Usah Ada Pemilu 2019

Usulan agar Pak Prabowo, Pak Jokowi, Pak Sandiaga, dan Pak Ma’ruf Amin itu “pingsut” atau saling menyepakati pembagian kekuasaan misalnya sepasang jadi petinggi negara, yang sepasang lagi jadi petinggi pemerintahan dianggap lelucon, meskipun logis. Di mata kelas menengah dan kaum petualang politik yang sangat senang dengan kegaduhan, cara simpel membuat keputusan atas kekuasaan sangat dihindari. […]

Pemerintah-Isme

Pada suatu hari, saya ndengkul bersama salah seorang guru. Salah satu bahasannya adalah hilangnya proporsionalitas orang sekarang dalam berpikir, sehingga menilai berbagai hal pendekatannya ekstrim, tidak logis, apalagi realistis. Sebagai anak muda yang lagi belajar, saya mungkin sering tidak realistis, tetapi saya berusaha untuk logis, tidak pragmatis – ekstrimis. Ekstrimisme ini melahirkan konsekuensi golongan dan […]

Mengikis Riba

Riba akan hilang perlahan-lahan jika umat Islam (dan umat manusia pada umumnya) menurunkan dua kecenderungan dalam dirinya, yaitu “akumulasi” dan “kepemilikan”. Mengapa memungut riba? Sebab mencari tambahan pemasukan, itulah akumulasi. Mengapa orang mengakumulasi? Karena ia menyangka bahwa harta itu miliknya, itulah kepemilikan. Dalam urusan harta, kanjeng Nabi sudah mencontohkan bahwa harta itu hakikatnya titipan, makanya […]

Tahsabuhum Jami’an Wa Qulubuhum Syatta

Menjelang tahun politik, makin jelas gambaran al Quran tentang “tahsabuhum jami’an wa qulubuhum syatta”. Kita bisa melihat dengan gamblang berbagai peristiwa itu. Apalagi kehidupan mainstream hari ini digerakkan oleh kapitalisme dan kompetisi kekuasaan yang penuh manipulasi dan menghalalkan segala cara demi kemenangan. Mungkin ada yang berkilah bahwa berbeda pendapat itu wajar. Ya seharusnya memang wajar […]

Maa Adroka Maa Bank?

Bank itu perusahaan atau otoritas ekonomi yang tugasnya mengelola distribusi uang? Sebab, mau ngomong bunga bank itu termasuk riba atau bukan tergantung dari persepsi kita melihat bank itu sendiri. Kalau bank adalah perusahaan ya uang yang dikelolanya memang dagangan, mosok dodolan ra golek untung. Nggo nggaji karyawannya gimana? Njuk labanya dari mana kalau nggak pakai […]

Bahaya Laten Kapitalisme

Dulu ketika SMA dan kuliah saya sering mendapatkan arahan soal keberpihakan politik, alasannya politik itu vital dalam menentukan kebijakan. Nasihat para senior itu benar dan logis, jika politik berada di dalam posisi yang tidak tergadai oleh kapitalisme. Lha kalau sekarang, hal itu jelas tidak relevan. Di mana-mana, politik hanyalah subkontraktor dari sistem ekonomi kapitalis. Menguatnya […]

Umat Pelengkap Penderita

Salah satu teman FB yang sejauh saya mengenali postingan-postingannya yang berbobot, punya perhatian lebih terkait persoalan hukum. Berdasarkan kajiannya, negara kita itu secara hukum memang sekuler. Para guru besar kita yang disebut begawan hukum, mengikuti madzhab Kelsen dengan teori hukum murni-nya, yang sekuler kaffah. Berarti sekalipun kita melabeli gerakan kita dengan nama agama, sebenarnya akan […]

Stop Primordialisme!

Yang bikin rempong menyikapi dinamika global saat ini adalah saat kita masih terikat kuat oleh wadah-wadah primordial dalam wujud fanatisme. Padahal manusia itu seharusnya lebih luas dari wadah-wadah primordial itu. Wong dulu ormas, parpol, bahkan negara sekalipun didirikan karena adanya kesepakatan antar manusia. Kok sekarang justru manusia dikerdilkan dalam wadah-wadah primordial itu. Paling gampang melihatnya […]

Hidup Golput !!!

Jaman masih unyu dalam belajar demokrasi, saya begitu percaya dengan berbagai argumen bahwa golput itu berbahaya. Ya wajar, saya kurang piknik. Padahal ya golput itu hal wajar dalam demokrasi. Kalau opsi yang ditawarkan ndak ada yang cocok, mosok tetep milih, pekok jenenge. Yang tidak etis dilakukan adalah kampanye untuk golput secara terbuka, itu tidak etis. […]