Saya sudah beberapa pekan ini, mencoba latihan menanam dengan memanfaatkan diapers dari popok bayi. Potnya pakai gelas-gelas bekas air mineral.

Awalnya saya aduk dengan media tanam, tanamannya kelihatan sehat di awal, tapi tumbuhnya tidak bagus. Sekarang saya jadikan lapisan kedua di bawah media tanam.

Ini tantangan baru, sebab sejak dulu taunya tanam menanam ya di kebonan rumah dengan tanah yang berlimpah. Juga banyak air kolam/kalen yang bisa digunakan untuk menyiram.

Empat bulan terakhir, demi mengamankan sampah organik saya ikut bikin komposter. Air lindinya sudah mulai bisa digunakan. Komposnya nunggu jadi sempurna dulu. Sudah setahunan, plastik di-ecobrick-kan. Plastik basah dicuci dan dijemur agar bisa ikut di-ecobrick-kan.

Berkebun di kota dengan memanfaatkan bahan yang ada (dengan sedikit membeli, misalnya media tanam dan benih yang bagus) itu tidak semudah berkebun di desa. Belum lagi, beberapa benih yang baru tumbuh, kepalanya (daun dan tunasnya) ilang disantap tikus got. Tiap kali si tikus mencuri, saya ingatnya malah sama koruptor.

Dari pengalaman beberapa waktu ini, saya jadi mengerti mengapa tinggal di kota itu penginnya serba praktis dan kepenak. Termasuk penginnya pokoknya dilayani pemerintah dan semua tersedia. Sebab kita semua memang lebih senang keluar duit ketimbang berbuat sesuatu yang bisa dikerjakan sendiri-sendiri secara kolektif.

Karena polanya begitu, kita secara kompak menyerahkan ribuan triliun untuk dikelola para-para yang di atas itu. Padahal duit itu enak buat bancakan. Akhirnya kita ketipu terus setiap pemilu. Udah ketipu berkali-kali, masih ingin mencoba lagi. Hahaha.

Surakarta, 15 April 2019

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.