Sejak awal, kotak surat suara dari kardus itu adalah lelucon yang sangat buruk. Anak SD/SMP saja mengerti bahwa itu konyol.

Tapi, ternyata banyak juga yang pasang badan dengan keputusan KPU dan partnernya (DPR – yang bikin undang-undang Pemilu) itu. Presiden pun diam melihat kelucuan yang tidak lucu itu.

Sekarang baru ramai jadi polemik soal kardus-kardus kotak suara yang mudah rusak. Padahal pemilunya tinggal Rabu besok. Bakal muncul kegaduhan yang sangat kompleks deh. Apalagi kalau kubu yang sudah menuduh KPU curang kalah beneran, bisa lebih geger lagi.

Maka dari itu, saya sebagai bagian dari rakyat Indonesia menghimbau kepada sesama rakyat untuk tidak ikut-ikutan masuk pada perangkap kubu-kubuan yang paling konyol ini. Apalagi pemilu 2014 dan 2019 konon disebut pemilu terburuk pasca 1998 karena banyaknya masalah soal DPT dan hal-hal terkait pelaksanaan teknisnya. Ini tidak ada urusan apakah mengandung kecurangan atau tidak, tetapi sejak dari undang-undang dan proses persiapannya memang tidak profesional.

Tidak perlu memiliki kekhawatiran bahwa kalau Jokowi terpilih lagi maka akan kiamat atau kalau Prabowo yang menang negara akan menjadi orde baru. Yang lebih pas, entah Jokowi atau Prabowo yang terpilih, oligarki tambang Batu Bara tetap akan mengeruk dan menggunduli hutan. Oligarki Sawit juga demikian. Freeport akan terus menyedot emas dan mengirim limbah berbahaya ke sungai dan laut. Dan masih banyak lagi. Apalagi OBOR dan IMF sudah memastikan dapat jatah yang disetujui oleh kedua kubu, sebelum pemilu ini berlangsung.

Jadi jalani pemilu 17 April 2019 dengan bahagia. Bikin tetangga yang sudah capek-capek jadi PPS menyiapkan tempat dan kegiatan terobati dengan kehadiran kita, ketika memang berada di kampung halaman. Bikin santai saja, mau coblos salah satu atau coblos semuanya, yang penting surat suaranya tidak rusak dan tetap rapi saat di masukkan ke kotak suara. Saling tersenyum dengan tetangga dan keluar dengan baik-baik saja. Sebab setelah itu harus mikir bertahan 5 tahun lagi sampai nanti ada pemilu lucu semacam itu.

Dan ada baiknya, mari kita yang bukan timses ini mencoba untuk benar-benar berperilaku sebagai rakyat. Sebab yang krisis di negeri ini adalah rakyat. Sebab, mayoritas rakyat menjadi timses gratisan. Termasuk para tokoh agama, yang harusnya jadi pembimbing umat agar mengalami perbaikan kualitas hidup, nyatanya juga banyak yang terperangkap pada urusan pemilu yang sangat lucu ini.

Surakarta, 15 April 2019

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.