FB itu bukan ruang publik seperti taman atau alun-alun di mana setiap yang datang berinteraksi langsung. FB itu aslinya tetap ruang privat yang seolah-olah terasa publik.

Berselancar di FB itu kayak kita melewati sebuah jalan, di kiri kanan ada etalase kaca, kadang di terasnya ada tempat untuk kita menaruh sesuatu, mulai dari bunga hingga tai.

Mau memberi bunga maupun tai, pada dasarnya kita tidak pernah bisa mengubah apa yang ada di etalase-etalase kaca. Karena etalase kaca itu ibarat akun milik para pengguna FB yang dengan bebas sesukanya untuk posting sesuatu.

Tapi jalan dan etalase itu milik seseorang yang sangat berkuasa. Siapa pun yang beramai-ramai melaporkan salah satu etalase karena berbagai alasan, baik alasan moral atau alasan kebencian atau mungkin malah tekanan dari otoritas yang punya lahan, si pemilik kawasan etalase itu bisa mengambil alih dan menutup etalasenya.

Nah, yang sibuk jalan-jalan nonton etalase, biasanya kurang rajin mengisi etalasenya sendiri. Mungkin memang hobinya demikian, dia suka mempelajari etalase orang lain. Tapi ada lho, yang suka jalan-jalan hanya untuk berak di depan etalase orang lain. Nah, yang beginian ini janjane agak susah dipahami. Janjane maunya apa. Nek saya sendiri, jelas fokus ngisi etalase sendiri. Sepuasnya. Wong digratiskan kok buat saya.

Saya cuma berharap, semoga yang kadang-kadang lewat di depan etalase saya, bisa mendapatkan manfaat. Kalau tersakiti, saya mohon maaf. Nggak perlu ninggalin apa-apa kok. Sebab saya sendiri memang hobi ngisi etalase sendiri. Mengisi etalase sendiri adalah sebentuk syukur, sebab dititipi sedikit kemampuan menulis dan dihidupkan di zaman FB, maka saya bersyukur dengan memanfaatkannya untuk menulis.

Surakarta, 13 April 2019

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.