Setidaknya saya berusaha menjaga ingatan peristiwa dari 1998 sampai hari ini, agar tidak lagi ketipu sepak terjang para politikus.

Menyimak pernyataan-pernyataan mereka yang molah malih dan loncat sana sini itu ternyata menggelikan. Tentunya, saya harus melepaskan diri dulu dari kecondongan partisan sebisa mungkin.

Saya sendiri lebih menikmati dan mengapresiasi para politikus yang berkiprah ditingkat kota/kabupaten hingga desa-desa. Di level itu, yang beneran baik dan bersih masih banyak. Kalau yang di atasnya, apalagi yang nasional, saya angkat tangan.

Di level kota, saya diam-diam mengikuti politikus yang tetap hidup sederhana dan memang nggak suka nyedot sana sini. Ada yang belum kunjung punya rumah, karena memang ndak kuat beli, dan tidak ikutan korupsi. Yang begitu-begitu itu asyik lho. Apalagi ada yang aktif FB-an juga.

Saya berharap sistem negara ini suatu saat menjadi federal saja, agar politikus-politikus yang seperti saya gambarkan di atas lebih punya power. Sehingga tidak dikebiri para politikus Senayan yang embuh sekali itu. Tapi mungkinkah bisa terwujud, wong jargon NKRI harga mati kadung dipatenkan je.

Semoga beliau-beliau yang saya maksud ikut membaca. Agar beliau tahu, bahwa saya tidak melulu nyinyir sama politikus yang nganu. Saya juga mengapresiasi kok. Tapi sebagai rakyat, saya tidak bisa mempromosikannya terbuka, karena itu tugasnya timses. Saya berdoa semoga semakin banyak politikus yang seperti beliau-beliau ini, agar rakyat mendapatkan pengayoman yang semestinya.

Meskipun demikian, harus diakui buruknya regulasi sistem perwakilan rakyat, potensi politikus semacam beliau-beliau tidak banyak tersalurkan. Jadi, aturan main dalam sistem perwakilan rakyat harus terus diperbaiki.

Surakarta, 21 April 2019

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.