Perkawinan demokrasi dengan agama yang paling ideal adalah dengan mengolah demokrasi sebagai bagian dari budaya keagamaan.

Bukan mengkompetisikan agama yang diideologikan dalam demokrasi, karena itu justru akan memburukkan citra agama sebagai alat perebutan kekuasaan.

Agama sendiri paling efektif jika disebarkan melalui pendekatan kebudayaan dan olah jiwa yang murni. Ia dibawa oleh para sufi yang bisa menyentuh hati manusia dan memberi keteladanan budi pekerti luhur. Sesekali memang ada peran kekuasaan dalam penyebaran agama, ketika sang sufi mampu mewarnai penguasa sezamannya, atau ia justru jadi penguasanya.

Kalau agama dikompetisikan dalam demokrasi, jadinya keras. Bukan saja mereduksi nilai-nilai substansialnya, ia juga dijadikan alat legimitimasi para politikus yang menghalalkan segala cara untuk berkuasa. Efek terluasnya adalah timbul gesekan-gesekan antar pemeluk agama, bahkan yang seagama tapi beda madzhab pun juga saling bergesekan.

Sebagai umat Islam, patokan kehidupan ideal umat Islam ya ketika Nabi Muhammad membina Madinah, itu yang ideal. Kalau kehidupan di era khalifah 5 (Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali, Hasan), tetap harus dicermati karena kehidupan di masa itu sudah mulai menggejala sebuah tradisi imperial. Tapi karena khalifahnya orang-orang yang bagus dan kokoh, ia tidak seperti era setelahnya, mulai dari Bani Umayah hingga Utsmaniyah.

Pasca keruntuhan kesultanan Utsmaniyah, umat Islam kayak penumpang sekoci dalam lautan besar modernisme – kapitalisme. Di sekoci-sekoci itu ternyata masih banyak bertengkar pada hal-hal remeh temeh hingga berebut kemudi. Padahal yang dihadapinya adalah gelombang tinggi dan hiu-hiu ganas yang siap menyantapnya, atau malah para bajak laut yang siap memperbudak mereka. Dilihat dari perkembangannya, belum terlihat gejala bersatu untuk mendapatkan sebuah kapal besar. Saat ini masih sibuk ribut di sekoci, satu dua yang waras berusaha mengingatkan pentingnya menyatukan kekuatan untuk meraih sebuah kapal. Masih harus sabar dan tenang. Sementara gelombang dan hiu ganas terus mengintai.

Surakarta, 16 April 2019

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.