Pasca nonton SEXY KILLERS saya merasa belum berbuat banyak untuk tidak menjadi sumber masalah bagi lingkungan.

Setahun ini, atas dukungan istri tercinta berhasil melakukan konservasi sampah rumah tangga sehingga benar-benar bisa meminimalisir sampah yang dibuang keluar.

Sampah organik sudah diproses di komposter. Sampah plastik kering sudah lama di-ecobrick-kan. Akhir-akhir ini pun berhasil menangani sampah plastik basah dengan cara dicuci dan dijemur hingga kering, lalu di-ecobrick-kan.

Sampah diapers popok bayi juga sudah dijadikan bahan pendukung untuk berkebun kecil-kecilan. Sehingga yang dibuang hanya popok yang mengandung pub bersama sampah-sampah plastik basah yang mengandung minyak pekat dan kotoran yang sangat berbau busuk.

Nah, rasanya waktu itu sudah semakin lega bisa mengatasi sampah rumah tangga. Begitu nonton fenomena pertambangan batu bara dan PLTU, saya ikut merinding. Listrik yang digunakan di rumah, jelas dari suplay PLTU atau PLTA, yang keduanya menimbulkan dampak buruk sosial ekonomi bagi masyarakat sekitarnya.

Jadi sekarang mulai terpikir untuk suatu saat mewujudkan sistem solar di rumah. Konon biayanya memang mahal, untuk membuat sistem yang bagus dan tahan lama, mungkin membutuhkan biaya sekitar 100-an juta. Angka sebesar itu, jelas untuk saat ini awang-awangen. Wong rumah saja masih “meminjam” aset mertua. Tapi semoga dengan niat yang kuat, suatu saat bisa terwujud.

Bagaimana dengan mobil? Wkwkwk. Saya berharap layanan transportasi daring tetap ada sampai besok, jadi bisa pakai terus dan gonta-ganti mobil. Dibandingkan membeli mobil, lebih efisien memakai layanan itu. Kecuali besok pekerjaan memerlukan mobilitas tinggi yang harus mengangkut barang-barang yang jumlahnya banyak. Kalau sekedar punya mobil untuk pamer kekayaan, ampun dah. Mending duitnya numpuk di rekening saja ketimbang buat “memelihara” mobil tahunan.

Surakarta, 15 April 2019

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.