Tari Perang

Mengapa di berbagai wilayah Nusantara selalu ada tari perang? Boleh jadi memang dahulu masyarakat kita adalah masyarakat petarung. Petarung itu maksudnya, mereka sangat menjunjung tinggi martabat mereka, sehingga jika kehormatan mereka direndahkan, mereka tidak takut mati untuk mempertahankannya. Bukan masyarakat yang hobi mencaploki wilayah. Itulah mengapa Nusantara ini terdiri atas ratusan wilayah kekuasaan, baik dalam […]

Demkrasi Rasa Oligarki

Tradisi demokrasi itu masih sulit diterapkan dan menjadi PR panjang bangsa kita. Peradaban kita berabad-abad dipandu kekuasaan monarki dan aristokrasi. Tradisi kebudayaan kita membentuk cara kita berpikir tidak egaliter, tetapi elitis. Itulah yang ditangkap para pendiri bangsa kita sehingga mereka merumuskan sistem kenegaraan kita dalam bentuk “kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan”. […]

“Penjajahan” Syams dari Masa ke Masa

Kita harus fair, bahwa pasukan Persia, kemudian pasukan Romawi Byzantium, kemudian pasukan Madinah, kemudian pasukan Frank Eropa, kemudian pasukan Shalahuddin, kemudian pasukan Utsmani, kemudian pasukan Inggris dan koalisi Arab merdeka pro Inggris sebenarnya sama-sama penakluk dan (bisa juga disebut) penjajah jika dilihat dengan kacamata ilmu sosial modern ini ketika mereka merebut tanah Syams (termasuk Palestina) […]

Siap Nggak Jadi Rakyat?

Sudah sewajarnya menjadi rakyat itu lebih banyak kritisnya dari pada apresiasinya kepada pemerintah. Sebab ini negara republik dengan aturan demokrasi. Yang jadi masalah adalah kalau yang poin dikritik bukan masalah-masalah publik yang sudah disepakati tapi tidak dijalankan pemerintah. Seperti yang berjalan saat ini, kritik yang bertebaran lebih banyak bernuansa sentimentil dan sektarian. Sebagai rakyat, berarti […]

Kotak “Kosong” Demokrasi

Di antara tanda demokratisnya pemilu itu kalau nanti KPU menyediakan pilihan “KOSONG” berapa pun kandidatnya. Karena itu bukti kerendahan hati dari negara bahwa tidak semua rakyat yang datang ke TPS itu pasti pro ke salah satu kandidat yang ada, bisa jadi mereka tidak setuju pada semuanya. Dengan adanya pilihan “KOSONG” itu, maka angka golput bisa […]

Semua Berdagang Demi Uang

Karena kerja saat ini dimaknai sama dengan golek duit thok, akhirnya semua berlomba jadi pedagang. Jadi presiden, ndagang. Jadi anggota DPR, ndagang. Jadi apa pun, semua demi ndagang. Akibatnya lapangan kerja yang tidak menghasilkan duit mulai ditinggalkan. Industri bermunculan, sampah-sampah makin menggila. Setiap orang merasa tidak perlu melakukan kerja penyelamatan sampahnya sendiri-sendiri, sebab itu tidak […]

Mlipir

Perseteruan politik yang awet dari 2014 hingga sekarang itu justru mengingatkan saya pada perseteruan abadi Sunni dan Syiah. Setahu saya, permulaan perseteruan itu sebenarnya berawal dari kepentingan politik pasca kegagalan perdamaian di Perang Siffin. Meskipun seolah-olah damai tapi banyak peristiwa yang mengecewakan bagi umat Islam yang tidak segera dicegah pada masa itu. Baru di masa […]

Shalat dan Pencitraan

Mencuatnya berita soal Jokowi mengimami shalat di Afghanistan dan Anies bertemu Erdogan menjelang shalat Jumat sebenarnya hanya indikator bahwa masyarakat kita terbiasa mencampuradukkan hal-hal yang bersifat personal dengan urusan publik. Shalat itu mau munfarid atau berjamaah, esensinya tetap persoalan personal. Jadi seharusnya kita sebagai umat Islam yang meyakini akan kewajiban shalat ya fokus saja menjalankan […]

Biro-Korporasi

Di zaman Orde Baru, tentara maupun pensiunan tentara itu merangkap jadi macam-macam dari Gubernur, Bupati, dan berbagai jabatan strategis untuk mendukung kekuasaan Eyang Soeharto. Di zaman sekarang, tentara sudah dikandangkan ke barak. Giliran dosen-dosen merangkap jabatan strategis macam-macam. Akhirnya kampus kekurangan dosen dan jam-jam kuliah sering kosong atau dibanjeli saja. Dengan sendirinya kualitas penelitian yang […]

Salah Sangka Politik

Kok pada marah-marah sama politisi yang kampanye sebar kaos dan bagi-bagi uang ketika musim pemilu, tapi lupa saat menjadi anggota dewan atau pejabat tinggi. Bukankah mereka bisa kampanye itu karena mereka ubet cari sponsor dari para pengusaha besar, lalu bisa menyebar kaos dan uang. Wajar kan kalau nanti jadi anggota dewan dan pejabat tinggi yang […]