Kalau baca-baca status dan debat komentar yang sengit di linimasa kok kayaknya kebanyakan netizen itu begitu cemas dengan pilpres, dan abai dengan pileg.

Padahal sistem demokrasi yang sehat seharusnya menguatkan sistem perwakilan rakyatnya dan memperbarui regulasi tentang pengawasan rakyat pada politikus. Porsi rakyat harus semakin besar dalam memberikan pengawasan pada kinerja politikus dan itu seharusnya ditulis dengan jelas dalam regulasi.

Untuk saat ini, jadi anggota legislatif itu relatif enak lho. Asal manut pada kepentingan partai, beres deh lima tahun menikmati masa jabatan, sekalipun tiap hari cuma datang, setor muka, dan tanda tangan ini itu sesuai kehendak fraksi. Pertanyaannya, apakah kepentingan partai selalu sejalan dengan aspirasi rakyat?

Nah apalagi bicara eksekutif. Harusnya, eksekutif itu kewenangannya nggak kayak Tuhan macam sekarang. Lembaga eksekutif itu semestinya benar-benar cukup jadi pelaksana pemerintahan saja, berdasarkan pada undang-undang. Nggak kayak sekarang bisa mengajukan UU, bisa menerbitkan Perpu dan memiliki kewenangan-kewenangan luar biasa lainnya. Harusnya urusan regulasi sepenuhnya di tangan legislatif. Eksekutif murni pelaksana dan jika kabinet presidensiil benar-benar dijalankan ya menterinya adalah para profesional, bukan orang titipan partai yang ngah ngoh.

Secara keseluruhan, masalah kekacuan hari ini tidak hanya dilakukan oleh politikus. Rakyatnya juga berperan menyuburkan praktik kegoblokan bernegara juga. Buktinya mereka antusias dalam mengidolakan politikus secara fanatik. Kelompok politikus yang semestinya diawasi dan dicurigai, serta ditempatkan dalam kasta pelayan justru disembah-sembah layaknya raja. Pola pikir feodalisme pada masyarakat kita belum hilang, dan mungkin memang tidak bisa dihilangkan.

Demokrasi di negeri kita itu indah dinarasikan, tapi absurd dijalankan. Alam bawah sadar kita selalu membentuk kita sebagai bangsa bersistem kasta yang feodal. Sayangnya hari ini hierarki tertingginya diisi golongan orang kaya, sehingga yang berkuasa tujuannya kaya, yang berilmu tinggi menempel pada penguasa supaya kaya, yang dikenal sebagai pandita juga mendekat penguasa supaya kaya. Apalagi kita rakyat jelata, jelas sekali ingin kaya. Lupakan cerita tentang orang baik. Ora payu saiki.

Udah deh, demokrasi itu ilusi di negeri kita. Hahaha.

Surakarta, 19 Februari 2019

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.