Pemilu itu akan menjadi asyik ketika rakyat berhadapan dengan oligarki.

Sehingga militer bisa mengalami dilema apakah berpihak pada rakyat atau jadi anjing penjaga oligarki.

Kalau di Indonesia, yang saling berhadapan justru oligarkinya. Sehingga militer merasa nyaman berada di manapun, toh sama saja menguntungkan. Lucunya, rakyat kok ya mau jadi jurkam para oligarki ini ya.

Di mana kanal pemimpin rakyat bisa dilahirkan? Ya di ormas-ormas yang masih memiliki basis akar rumput. Pertama-tama, ormas-ormas ini menggerakkan rakyat untuk mengepung parlemen agar bersidang untuk amandemen konstitusi sehingga dimungkinkan presiden itu dicalonkan secara independen.

Berikutnya, ormas-ormas ini berkoalisi mengusung calon presiden dan wakil presiden independen. Di saat yang sama memberi tekanan signifikan kepada parlemen lewat anggota-anggotanya yang ikut di parpol. Bayangkan jika NU dan Muhammadiyah menjalankan politik kebangsaan semacam ini. Kebayang kan ketika Kokam dan Banser mengepung gedung DPR/MPR agar anggota dewan tidak kabur.

Kalau ini sampai terjadi, pasti tubuh militer dan kepolisian akan mengalami dinamika. Sebab di sana pasti ada juga anggota Muhammadiyah dan NU. Hasil dinamika di tubuh aparat bersenjata akan menentukan apakah rakyat menang atau kalah melawan oligarki. Jika aparat bersenjata berhasil didominasi orang-orang nasionalis, rakyat akan menang. Jika aparat bersenjata berhasil didominasi para pejuang bayaran, ya oligarki yang akan menang.

Di Amerika Latin kejadian semacam itu sering. Pasti kompetisinya adalah calon yang diusung rakyat dengan calon yang diusung oligarki. Calon yang diusung rakyat sering dicap kiri atau komunis. Ketika calon yang diusung rakyat terpilih, biasanya Amerika Serikat segera mengirim agen CIA untuk menggulingkannya. Sebab umumnya kebijakan para pemimpin ini kerap membatasi para oligarki yang punya koneksi dengan oligarki global. Kita sudah tahu kan, AS itu mendaku sebagai Kaisar Dunia.

Tentu saja, apa yang saya tulis di atas hanyalah mimpi saya. Sebab kenyataannya jauh dari harapan. Lihat saja bagaimana Muhammadiyah dan NU saat ini. Tapi saya bersyukur Muhammadiyah masih kukuh untuk tidak terseret lebih jauh di saat NU sudah mulai ditarik sana sini untuk kepentingan politik oligarki itu. Untunglah di NU masih ada ulama-ulama sepuh yang mengambil peran sebagai paku, seperti Gus Mus misalnya.

Ya, gimana ya, sebagai rakyat kecil bisanya mimpi. Sebab mau disalurin ke mana lagi. Saat ini parpol berubah menjadi perusahaan dan kerajaan. Untunglah ada Fesbuk, bisa saya tumpahkan di sini.

Surakarta, 28 Februari 2019

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.