Sebagai rakyat, sudah tentu standar saya pada politikus sangat tinggi. Berbeda dengan timses yang fokusnya kampanye, artinya memang harus nyari baik-baiknya dari apa yang dikampanyekannya.

Meskipun standar rakyat itu sangat tinggi tidak berarti rakyat anti politikus lho ya. Sebab realitanya dengan kinerja politikus yang cukup payah pun rakyat tetap baik-baik saja, tidak demo, melakukan tindakan anarki, dan melakukan pemberontakan pada pemerintahan yang sah.

Demokrasi di negeri kita tidak pernah meningkat dengan pesat, sebab standar rakyat masih terlalu rendah untuk politikus. Rakyat kita yang genetiknya kawula para raja, cenderung nriman dan tidak kritis pada politikus. Itulah sebabnya, dalam alam demokrasi kita, menyatakan dukungan dalam pemilu itu lebih fardhu ‘ain ketimbang bawel mengkritik para politikus yang sedang menjalankan mandat.

Lebih buruk lagi, lahir persepsi publik bahwa rakyat yang menyatakan protes, kritik, dan seabreg suara negatif kepada pemerintah, dianggap musuh. Dalam keadaan semacam ini jelas, masalah terbesarnya ada pada rakyat itu sendiri, bukan semata-mata pada politikusnya. Bagaimana bangsa ini akan mentas dari samudera oligarki jika rakyatnya masih begini-begini saja. Politikus tentu saja mirip makelar, dia cuma akan berkampanye menurut selera rakyatnya. Sebab kebanyakan politikus kan oportunis, asal suaranya dapat banyak dan menang.

Jadi, bagaimana demokrasi akan berkembang jika ada rakyat yang sewot dengan status macam bikinan saya? Kalau timses yang baca status saya agak-agak meradang saya memang memaklumi. Tapi Anda harus tahu, peran rakyat ya begini. Beda dengan Anda yang timses. Saya tidak peduli Anda sebagai timses digaji besar atau kecil, atau malah tidak digaji. Tapi namanya timses memang Anda harus banyak bicara kebaikan bos Anda. Kalau rakyat, justru harus bicara sebaliknya, sebagai cara mengimbangi langkah Anda.

Surakarta, 25 Februari 2019

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.