Bakulitik

Bicara politik dan relasinya dengan dunia bakulan itu jangan naif-naif lah. Misalnya, kebijakan impor itu janjane wajar dilakukan jika diperlukan. Tetapi ketika impor dipaksakan, kita perlu mencari tahu. Sebab impor itu prinsipnya jual beli, sama halnya kayak ekspor. Bedanya, ketika kita posisi impor, kita itu yang beli. Tapi untuk kebutuhan publik, yang nangani jual beli […]

Demokrasi Tanpa Kontrol

Dalam menjaga demokrasi, oposisi memang tidak bisa diandalkan. Sebab politikus oposisi itu kepentingannya bukan demi rakyat, tapi demi gantian berkuasa. Kalau oposisi terlihat berseberangan dengan pemerintah, motif utamanya ya agar lebih populer sehingga di periode berikutnya gantian dipilih untuk berkuasa. Prett lah kalau urusannya demi rakyat. Maka dari itu, oposisi sejati pemerintah sesungguhnya adalah rakyat. […]

Kritik Ekonom untuk Pemerintah

Pertanyaan sekaligus kritik mas Bhima Yudhistira selaku ekonom menarik. Rakyat macam kita perlu belajar sungguh-sungguh memahami persoalan ekonomi semacam ini. Pemerintah ngutang itu fakta. Semua rezim pemerintahan itu ngutang, sebab pemasukan yang ada belum mencukupi untuk memenuhi kebutuhan pengeluaran. Masalahnya, bagaimana cara ngutangnya dan bagaimana penggunaanya agar memberikan manfaat jangka panjang bagi pembangunan. Rezim-rezim sebelumnya, […]

Bayar “Mahar” Politik di Muka

Saya memaklumi sebagian masyarakat yang bisa berkonsolidasi dan menodong para caleg/cakada/capres untuk memberikan bantuan di muka sebelum pemilu. Sebab sistem pemilu kita saat ini masih semacam beli barang tanpa jaminan garansi. Jadi ketimbang nanti rugi di belakang, setidaknya mencicipi untung di depan. Di beberapa negara Eropa, setiap anggota parlemen itu mendapat hak kekebalan dari intervensi […]

Berdemokrasi Itu …

Namanya praktik kekuasaan itu ya bakal melahirkan konsep ndoro dan pelayan. Demokrasi menempatkan pemerintah adalah pelayan dan rakyat sebagai ndoronya. Berbeda dengan monarki atau aristokrasi. Maka sudah sewajarnya dalam demokrasi, rakyat clometan dan maido kinerja pemerintah itu hal biasa. Yang harus ditegaskan adalah ruang maido yang dibolehkan adalah pada urusan kinerja, bukan personal-personal pemerintahnya. Jadi […]

Usia Ideal Politikus

Ruang perebutan kekuasaan itu mending untuk politikus usia 50 tahun ke bawah. Yang sudah di atas itu mbok mending do jadi sesepuh saja, baik di partai masing-masing atau jadi negarawan sekalian. Selain itu, ormas-ormas yang usianya lebih tua dari NKRI mbok menahan diri dan menjaga jarak dari urusan politik praktis. Terutama NU dan Muhammadiyah, dengan […]

Politikus, Timses, dan Rakyat

Politikus itu kan memang jualan utamanya janji/ program. Makanya ya ditagih kemudian ketika ia berhasil meraih kekuasaan. Anehnya, ketika ditagih mereka ngeles. Lebih parah lagi, para pendukung militannya mencari-carikan alasan pembenaran, entah kurang waktunya (jadi masa berkuasanya perlu diperpanjang lagi), atau dengan membandingkan dengan kondisi yang lebih buruk, bahkan malah ada yang pakai alasan-alasan langitan […]

De-profesor-isme

Orang-orang yang rajin mempersoalkan jalan tol, waduk, dan aneka proyek infrastruktur lintas tahun itu memang lucu. Saling unjuk kepekokan. Tapi lebih lucu lagi jika ada profesor-profesor teknik sipil yang mendadak juga jadi partisan, dan membuat pernyataan bahwa bendungan dapat dibangun dalam waktu setahun. Sejauh saya iseng cari-cari informasi itu, saya belum dapat info seorang pakar […]

Problem Undang-Undang

Undang-undang itu mestinya berisi butir-butir aturan yang seimbang antara rakyat dan pemerintah penyelenggara negara. Kalau undang-undang isinya cuma kewenangan pemerintah berbuat apa saja dan ancaman-ancaman buat rakyat, tanpa ada konsekuensi kebalikannya, jenenge undang-undang pekok. Undang-undang pekok semacam ini ternyata banyak diproduksi oleh pemerintah dan parlemen kita. Misalnya UU ITE, itu salah satu UU gila di […]

Rakyat Ngalah, Lalu Ngalih, Belum Ngamuk

Hakikat negara itu terletak pada perjanjian antar masyarakat yang menyepakatinya. Kalau di antara masyarakat itu saling mengkhianati, hakikatnya negara itu telah hancur. Yang membuat negara terlihat eksis karena adanya pemerintah yang mengklaim seolah-olah dirinya negara, padahal sebenarnya sedang melayani tuan-tuan pedagang sambil menendang masyarakat hingga kehilangan tanah-tanah garapannya. Anehnya, orang-orang yang semakin tinggi sekolahnya semakin […]