Bagi yang paham substansi demokrasi, pemilu hingga hari ini asline buang-buang waktu dan dana.

Tapi, kita tetap harus optimis, siapa tahu dengan tertipunya rakyat berkali-kali, rakyat sadar bahwa demokrasi itu harusnya nggak kayak gini.

Ketika mereka sudah sadar bahwa ditipu itu nggak enak dan diakali itu lebih tidak enak lagi, semoga rakyat mau belajar bahwa esensi demokrasi itu ada di sistem perwakilan rakyatnya, bukan sekedar urusan pemilu.

Selain pemilu, ada banyak cara memilih wakil rakyat. Misalnya politikus yang mau jadi wakil rakyat dites macam-macam, mulai dari lari sprint, lari maraton, masuk gorong-gorong berbau sepanjang 1 km, melewati kandang singa yang lagi kelaparan, dan banyak lagi yang lainnya. Yang selamat dan lulus tes itu, layak jadi wakil rakyat.

Demokrasi itu adalah tentang bagaimana rakyat menjadi penguasanya, setelah bertahun-tahun kita hidup dalam alam monarki dan aristokrasi – oligarki. Salah satu mekanismenya adalah membentuk sistem perwakilan rakyat yang benar. Sistem perwakilan rakyat itu baru benar jika rakyat bisa mengontrol wakilnya dan wakilnya bekerja atas dasar kepentingan rakyat yang diwakilinya, bukan kepentingan para pemodal seperti sekarang ini.

Menuju masyarakat demokrasi itu masih terlalu jauh untuk bangsa ini. Semoga nggak putus asa lah ya. Kalau nanti putus asa, mari bikin monarki saja. Caranya gampang, parpol-parpol itu kan aslinya sudah monarki, tinggal diresmikan sebagai kerajaan saja. Begitu menjadi kerajaan, sebagai rakyat kita tinggal cuek-cuekan saja. Biar kerajaan-kerajaan itu yang berperang untuk berkuasa. Rakyat tetap macul dan golek pangan dewe-dewe. Gitu aja.

Salam demokrasi rasa monarki yang fasisnya tiada tara.

Surakarta, 17 Februari 2019

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.