Jika memang menganut madzhab Trias Politica, ada baiknya orang itu menempuh karir secara runtut dari eksekutif dulu, baru ke legislatif, dan bila cukup bijaksana masuk ke Yudikatif.

Tentu saja konteksnya harus jelas bahwa negara berada di atas pemerintah (eksekutif). Sehingga kepala negara berbeda dengan kepala eksekutif. Kepala negara itu semacam tetua negeri. Kepala eksekutif itu ranah politik praktis.

Idealnya politikus-politikus muda itu jadi eksekutif dulu. Mereka menjalankan undang-undang yang dibentuk para legislator. Suka dukanya diambil pelajarannya. Namanya menjalankan undang-undang tentu harus kreatif dan inovatif.

Kalau sudah kaya pengalaman di eksekutif, baru ikut kontestasi di legislatif. Pengalaman selama menjadi eksekutif dijadikan pedoman untuk memperbaiki undang-undang. Sekaligus mengontrol eksekutif yang lebih muda agar mereka menjadi lebih baik.

Nah semakin senior, bisa masuk ranah Yudikatif. Karena sudah menguasai medan eksekutif dan legislatif, menjadi penegak hukum tentu lebih menakutkan. Di samping menang umur, juga menang pengalaman sehingga bisa menegakkan apa yang melenceng.

Di puncaknya bisalah menduduki dewan negara yang sudah tidak bicara anggaran, tapi filosofi dan nilai kebangsaan. Tapi ini semua cuma angan-angan saya. Sebab kalau di Indonesia, makin tua malah makin mengejar posisi eksekutif. Mengapa? Duitnya paling banyak, kan ngeksekusi undang-undang, jadinya sama aja menggunakan anggaran kan. Duitnya bisa dikorupsi, entah buat sendiri atau rame-rame.

Surakarta, 7 April 2019

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.