Apakah mendirikan partai Petani, partai Nelayan, partai Pedagang Pasar, partai Buruh itu susah? Secara teoritis dan sistem seharusnya tidak. Tetapi secara realitas ternyata sangat susah diwujudkan.

Petani, nelayan, pedagang pasar, dan buruh itu sebenarnya jumlahnya sangat berlimpah di Indonesia dan tersebar merata di seluruh wilayah. Banyak di antara mereka yang cerdas dan berkapasitas untuk menjadi politikus baru. Jadi sebenarnya secara ketersediaan SDM dan jaringan, tidak ada hambatan bagi mereka untuk mendirikan partai politik.

Tapi hal itu susah diwujudkan, karena alam pikiran masyarakat kita terperangkap pada identitas keagamaan dan etnis. Meskipun sudah 73 tahun mendirikan NKRI, cara kita berbangsa masih tetap primordial dan rasis. Kita kesusahan untuk membangun kesadaran bersama berdasarkan fungsi-fungsi sosial yang sedang kita jalani saat ini. Tetap saja kita berkutat pada soalan-soalan identitas yang seolah tidak pernah bisa terselesaikan.

Yang paling buruk dari upaya penegakan kembali supremasi sipil melalui jalur politik rakyat di atas adalah isu kebangkitan komunis. Apalagi ketika partai buruh sampai didirikan dengan keanggotaan yang besar secara nasional, pasti banyak yang beranggapan itu adalah kebangkitan komunis. Itulah mengapa hingga hari ini upaya-upaya membentuk partai buruh selalu gagal dan kalau pun berdiri perolehan suaranya kecil dan gagal memiliki wakil di parlemen. Kalangan umat Islam yang tidak jeli membaca peta ekonomi justru sering menjadi garda terdepan untuk urusan perlawanan semacam ini.

Secara hitung-hitungan teoritisnya, dengan lahirnya partai-partai yang berdasarkan representasi sosial di masyarakat, proses legislasi di parlemen justru akan lebih logis, tidak mbulet dan kacau seperti sekarang. Kan kalau partai petani jelas, ya memperjuangkan kesejahteraan petani. Hal ini tentu saja, tidak hanya sekedar pembagian kue ekonomi, tetapi bagaimana mereka juga memperjuangkan sistem pendidikan anak-anak petani agar mendukung terjaganya iklim pertanian dan perbaikan generasi petani di masa depan. Demikian pula partai nelayan, partai pedagang pasar, dan partai buruh. Tapi semua itu hanya berakhir menjadi angan-angan saya, sebab di lapangan orang-orang hari ini lebih percaya mitos-mitos yang dihubungkan dengan narasi keagamaan maupun narasi sejarah yang penuh kebohongan.

Pembentukan partai-partai yang berdasarkan representasi sosial di masyarakat itu justru lebih relevan untuk perjuangan umat. Sebab ia bisa membatasi para politikus untuk menyalahgunakan mandat. Kalau partai-partai hari ini, politikusnya leluasa menyalahgunakan mandat, sebab manifesto politik yang mereka usung melalui partai itu terlalu melangit dan tidak fokus pada satu masalah yang penting. Semua partai politik ingin melakukan hal yang sama, seperti memperjuangkan kejayaan Indonesia, mengangkat nasib petani, mengangkat nasib nelayan, dan sebagainya, pokoknya semua mau dikukupi oleh partai mereka sendiri-sendiri. Hal semacam ini menurut saya hanya menjadi omong kosong, sebab rakyat akan kesulitan mengidentifikasi politikus mana yang paling fokus untuk memperjuangkan aspirasinya. Katakanlah ketika ada 1 orang wakil petani di parlemen, mereka juga akan kesulitan memperjuangkan aspirasi petani, ketika dihadapkan pada suara komisi dan fraksi.

Bagaimana cara memecah kebuntuan ini? Salah satu caranya adalah melalui gerakan kultural para tokoh agama dan budayawan. Bukankah para ustadz, kiai, pastur, bikhu, dan budayawan lainnya tersebar di seluruh penjuru Indonesia? Mereka bisa mendorong masyarakat yang ada di sekitar mereka untuk mewujudkan gerakan politik bersama berdasarkan kesamaan mereka. Jika serikat tani, nelayan, pedagang pasar, dan buruh di setiap kota memiliki kesadaran bersama membentuk satu wadah politik bersama, maka itulah yang saya maksud sebagai partai petani, partai nelayan, partai pedagang pasar, dan partai buruh. Hanya saja, kendala berikutnya yang sudah menjadi hal umum di Indonesia adalah nanti pasti ada konflik internal rebutan posisi ketua partai mulai dari tingkat daerah hingga nasional. Tapi saya merasa optimis hal itu tidak terlalu parah seperti para politikus di partai politik yang sekarang. Jadi masih ada harapan untuk mewujudkan partai-partai rakyat itu, sebelum semakin terlambat dan dominasi para pemilik modal mengangkangi politik Indonesia.

Surakarta, 31 Maret 2019

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.