Kerakusan pada duniawi terbuang suci budi

Keegoan melampau batasan hilang kemanusiaan

Luka parah isi dunia tangan-tangan penuh dosa

Hukum tuhan sedar segera

…… (untuk Tuhan – Hijjaz)

Untaian syair yang indah di atas kutulis untuk memulai sebuah pandangan hidupku yang tercerahkan. Tatkala sebuah keinginan membuat perubahan tanpa dilandasi semangat kebersamaan maka semua itu tidak ada artinya. Semuanya butuh sinergi yang luar biasa di mana satu sama lain harus banyak mengupdate cerita dan informasi agar pemahaman kita komprehensif.

Begitulah ketika aku di masa agresif dahulu merasakan banyak ketikaadilan yang bercokol di masyarakat hingga akhirnya lebih memilih mengobarkan bendera perang kepada setiap perusak keadilan itu. Mereka yang hobi menggelapkan uang dan berbagai aktivitas licik menjadi orang yang kumusuhi sampai habis-habisan. Namun setelah memasuki dunia kampus, kedewasaan itu telah mengubahku untuk menjadi pribadi baru yang berpikir lebih komprehensif dan mendahulukan mana yang terbaik di antara semua perkara yang baik.

Lebaran ini adalah momentum bagiku untuk bersilaturahim ke tokoh-tokoh masyarakat, untuk kembali melanjutkan tahun-tahun yang sebelumnya untuk belajar banyak dari mereka yang sebagiannya dulu telah masuk dalam daftar hitam kehidupanku. Ada nasihat Rasulullah yang sangat penting, yaitu

“Perhatikan apa yang dikatakan dan jangan memperhatikan siapa yang mengatakannya”

Itulah kata kunci untuk kita agar bisa belajar dari siapa saja. Hal terpenting yang harus kita siapkan sebagai pondasinya adalah dengan mengetahui ushul-ushul dalam belajar sehingga kita tidak menjadi pengekor manusia atau manusia dogmatis. Kalo dalam bahasa Pak Sholekhan adalah bagiamana kita menjadi manusia yang cara berpikirnya benar. Bukan asal berpikir saja tetapi mengetahui sistematika berpikir terhadap berbagai informasi yang masuk ke kepala kita. Itulah hal terpenting sehingga kita dapat menakar banyak hal untuk kita ambil yang benar dan kita tinggalkan yang tidak benar.

Itulah yang sekarang terus kupelajari agar aku tidak menjadi manusia sentimental terhadap saudara sendiri. Apapun aliran mereka, apapun jamaah mereka selagi mereka bersyahadat dan bersepakat pada ushul-ushul agama ini mereka adalah saudara kita. Hendaklah aku menahan diri dari berdebat apalagi mencela mereka di belakang layar. Dan dari para tokoh masyarakat yang ku kunjungi hari ini, ternyata aku mendapati banyak ilmu dan pemahaman yang banyak tentang demografi masyarakatku sendiri. Merekalah para pepundhen dan pinisepuh yang seharusnya kusowani sejak dulu agar aku dapat belajar menjadi orang yang lebih tanggap terhadap problematika masyarakat. Bagaimanapun tingkah mereka hari ini, mereka adalah produk masa lalu. Tidak seharusnya dikebiri, tetapi diajak bersinergi, karena ajakan itu barangkali justru akan menjadi momentum perubahan yang sesungguhnya bukan malah menjadi ajang permusuhan yang berkepanjangan. Berdamai dengan masa lalu dan menatap masa depan bersama dengan penuh harapan.

Itulah dimensi sosial kemasyarakatan lebaranku tahun ini dan beberapa tahun silam ketika cahaya Islam ini telah memasuki jiwa dengan sesungguhnya. Terkadang jadi ingat, ketika salah satu sahabatku pernah bertanya, “Akh, kapan antum ber-Islam?”. Itu pertanyaan yang berat untuk di jawab. Status agama Islam kita melekat sejak lahir karena orang tua kita muslim, tapi benarkah kita telah ber-Islam yang sebenarnya? Wallahualam. Maka tugas kita adalah menjadikan Islam sebagai way of life kita. Hanya itu, tidak perlu yang lain. Hanya itu, maka Allah akan meridhoi kita. Hanya itu, maka kita akan reuni di jannah-Nya nanti. Amiin. Insya Allah

Tiap saat masa yang berlalu bertambah usiamu

Ia kan pergi tak kembali lagi

Rebutlah saat ini

Di dunia yang sementara pergunakan sebaiknya

Untuk tuhan pencipta kita

Marilah kita berganding tangan

Bersatu tenaga tegak syiar Islam

Hidup bahagia diredhai tuhan

Akhirat kan kekal di syurga

Teguhkan iman di dalam diri

Tetapkan amalan pada ilahi

Segala cabaran tabahkan hati

Janji tuhan iman takwa kita dibela

……. (untuk Tuhan – Hijjaz)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.