Keterlibatan tokoh agama dalam politik praktis itu justru memperkeruh keadaan.

Dalam tatanan negara dan kebangsaan yang majemuk seperti Indonesia, tokoh agama itu seperti paku untuk menjaga rekatnya bangsa. Politik mereka seharusnya politik kebangsaan, bukan partisan.

Ketika para tokoh agama tetap menjaga jarak dari politik praktis, para politikus tidak bisa melenggang bebas. Sebab mereka akan selalu merasa terancam untuk dilengserkan rakyat sewaktu-waktu jika tidak amanah menjalankan mandat.

Bagi umat, tokoh agama adalah panutan. Artinya pada situasi yang genting, tokoh agama bisa memainkan peranannya untuk menekan politikus ketika memang mereka bekerja sangat buruk dalam menjalankan kekuasaan. Di sinilah pentingnya tokoh agama berada di luar politik praktis.

Ketika para tokoh agama terbiasa berada di luar jebakan politik praktis, umat akan selamat dari pecah belah. Sebab sumber masalah pecah belah umat itu, pasti dari masalah perebutan kekuasaan. Sentimen antar suku dan agama itu tidak akan membesar kalau tidak digoreng para politikus.

Hari ini, kita mengalami masalah serius dalam ketegangan-ketegangan seputar politik praktis. Masalahnya sebenarnya sepele, pemilu legislatif dan pemilu presiden, itu saja. Tapi karena para tokoh agama justru turun gunung dan ikut jadi TOA untuk masing-masing politikus junjungannya akhirnya jadi rusak semua.

Hari ini tinggal sedikit tokoh agama yang tetap pada maqamnya, sebagai paku untuk bangsa. Selebihnya menjadi jurkam yang lucu-lucu tingkahnya. Kalau jurkamnya cuma politikus, rakyat mungkin bisa lebih waras. Tapi kalau jurkamnya sudah tokoh agama, umat seperti dipersiapkan untuk perang. Sayangnya, ancaman perang yang akan terjadi adalah perang saudara, perang sesama bangsa Indonesia, bahkan perang sesama umat Islam. Kurang gendeng apa lagi.

Surakarta, 27 Februari 2019

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.