Kotak “Kosong” Demokrasi

Di antara tanda demokratisnya pemilu itu kalau nanti KPU menyediakan pilihan “KOSONG” berapa pun kandidatnya. Karena itu bukti kerendahan hati dari negara bahwa tidak semua rakyat yang datang ke TPS itu pasti pro ke salah satu kandidat yang ada, bisa jadi mereka tidak setuju pada semuanya. Dengan adanya pilihan “KOSONG” itu, maka angka golput bisa […]

Demokrasi Yang Masih Nganu

Dulu banget ketika awal-awal belajar tentang realita demokrasi, saya sering senewen sama pilihan teman yang berbeda. Apalagi sama-sama lagi belajar mengenal pergerakan dan bagaimana pergerakan itu bermakna bagi sebuah kehidupan masyarakat. Sekarang saya woles-woles saja. Saya yang tidak cocok di bidang pemasaran tidak lagi ikut-ikutan meramaikan dan memasarkan para tokoh. Tapi saya tetap mengapresiasi teman-teman […]

Kesadaran Monarki

Demokrasi liberal yang mengajak rakyat berpartisipasi langsung memilih pembantunya selama lima tahun sekali sebenarnya baik-baik saja jika rakyat tahu akan aturan main ini. Namun faktanya, sebagian besar rakyat tidak paham dengan hal ini dan parahnya menganggap para pembantu yang dipilih ini seperti raja mereka. Makanya terhadap bupati, walikota, gubernur, presiden dan para anggota dewan, rakyat […]

Keanehan yang Dianggap Biasa

Paguyuban pemerintah negara-negara di dunia (tapi berani menamai diri United Nations alias PBB) pasca Perang Dunia menyepakati model dunia aneh. Banyak negara yang namanya beda-beda ndak apa-apa, asal kesepakatan politik dan ekonominya seragam. Yang tidak mau seragam, siap-siap dikucilkan, dicap terbelakang, dicap tradisional, dan segala ejekan menyakitkan. Mengapa aneh? Bukankah setiap bangsa seharusnya memiliki tradisi […]

Qulillahumma Malikal Mulki

Menurut tadabbur saya, setelah dipantik dalam sebuah diskusi bersama Mbah Nun, QS al Imran ayat 26 itu sebenarnya adalah pesan dari Allah tentang hakikat kepemimpinan. Gagasan demokrasi yang sejati adalah meletakkan kepemimpinan itu tetap bersyarat secara komprehensif, bukan sekedar atas kehendak manusia. Jika seseorang itu didaulat menjadi pemimpin tidak hanya untuk manusia saja, tetapi untuk […]

Cerdas Berdemokrasi

Saya heran dengan orang yang selalu illfeel lihat Jokowi dan Prabowo akur. Saya tidak punya tendensi politik dan kepentingan pada mereka berdua. Saya cuma heran dengan orang-orang yang mempertanyakan akurnya mereka berdua. Lha apa yang salah, bukankah perbedaan pendapat itu wajar setiap hari bisa dilakukan, tapi persabahatan kan tidak boleh putus. Perbedaan pilihan politik ada […]

Inkonsistensi Nalar Kita

Sebagaimana beratnya menjelaskan nalar riba dan konsep ibadah menurut al-Quran, nalar demokrasi mayoritas rakyat Indonesia pun sebenarnya punya masalah serius. Aneka masalah yang kita hadapi tidak lain karena pola pikir dan sikap kita yang inkonsisten terhadap demokrasi. Dalam nalar demokrasi, seharusnya kedudukan presiden, gubernur, bupati, dan walikota adalah pelayan rakyat. Mereka difasilitasi dengan berbagai hal […]

Demokrasi Inversi

Dalam konteks negara yang katanya berdemokrasi, presiden, gubernur, dan bupati itu adalah jabatan yang setara dengan “pembantu” dalam lingkupnya masing-masing. Hanya di Indonesia, rakyat itu sangat tawadhu’ dan memperlakukan pembantu-pembantu mereka seperti raja. Ketika pembantu mereka benar-benar merasa menjadi raja dan bertingkah mirip raja, rakyat malah melongo. Do piye sih, nek pembantu ki wangkal tur […]

Riba dan Konsekuensinya Bagi Kehidupan Umat Islam (bagian 6)

Lalu dimana letak ribanya jika dolar masih dapat dicairkan emasnya? Awalnya dolar memang masih bisa dicairkan menjadi emas dengan ketentuan harga yang makin tahun makin merosot. Karena jumlah uang kertas yang beredar terlalu banyak, sementara emas jaminannya tidak sebanyak uang yang beredar. Akhirnya ada sebuah perjanjian yang menutup pencairan emas tersebut. Artinya uang dolar benar-benar […]

Ngguyu Ngakak di Era Democrazy

Seringkali Mbah Nun mengulang-ulang pernyataan, “kalau model demokrasi semacam ini diterus-teruskan, maka jangan harap akan lahir pemimpin sejati seperti yang dicita-citakan.” Saya renungkan betul kata-kata beliau, apa substansi dari pernyataan itu. Lalu apa relevansinya dengan problem kepemimpinan di negeri kita. Akhirnya saya tertawa keras setelah menemukan salah satu bentuk kekeliruan cara berpikir kita yang serius, […]