Menurut tadabbur saya, setelah dipantik dalam sebuah diskusi bersama Mbah Nun, QS al Imran ayat 26 itu sebenarnya adalah pesan dari Allah tentang hakikat kepemimpinan. Gagasan demokrasi yang sejati adalah meletakkan kepemimpinan itu tetap bersyarat secara komprehensif, bukan sekedar atas kehendak manusia.

Jika seseorang itu didaulat menjadi pemimpin tidak hanya untuk manusia saja, tetapi untuk satu wilayah negara, ya seharusnya cara seleksinya tidak hanya melibatkan manusia. Bagaimana bisa kita mengakui seorang menjadi pemimpin sementara citranya hanya dibangun dari kertas-kertas sertifikat dan media massa. Bagaimana nalarnya, orang satu negara disuruh memilih secara massal atas beberapa orang yang tidak dikenalnya dengan baik.

Hakikat kepemimpinan itu adalah kesadaran mengemban amanat untuk menjadi pemimpin dan kerelaan pihak lain untuk dipimpin. Tanpa keduanya, maka kepemimpinan yang berjalan hanyalah ilusi dan basa-basi. Di zaman ini, kepemimpinan sebenarnya sudah tidak ada, yang ada adalah kekuasaan semata. Berbagai pihak saling berlomba untuk menduduki kekuasaan agar bisa menguasai pihak lain. Dan setiap kita membenarkan bentuk-bentuk pemaksaan semacam itu.

Maka saya sampai pernah berpikir konyol, harusnya seleksi jadi calon bupati, walikota, gubernur, hingga presiden itu jangan sekedar administratif. Paling ga seleksinya dimulai 10 tahun sebelum pemilu. Dites daya tahannya, hidup di lingkungan terkumuh hingga terelit. Praktik jadi orang miskin minimal 5 tahun. Praktik jadi tukang-tukang ini itu yang merupakan representasi dari rakyatnya. Nek wis lolos baru daftar secara administratif. Ora ujug-ujug setor duit ndek partai terus daftar. Penak men. Yo wajar bar jadi njuk cari balik modal.

Kembali ke topik, saya kok merasa bahwa kita sebenarnya sedang ramai-ramai melanggar nilai-nilai dari ayat ini. Sehingga ketika kita bikin negara, ribut dengan pemilu, akhirnya mumet dhewe ra karuan. Padahal di ayat lain Allah sudah jelas berfirman bahwa apa-apa yang menimpa kita ya tersebab atas perbuatan kita sendiri. Dan kita memang lucu, lucu sekali. Betapa hidup memang adalah sebuah senda gurau saja.

Juwiring, 7 Februari 2017

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.