Menurut tadabbur saya, QS al Hujurat ayat 13 itu adalah pesan dari Allah bahwa ikatan perkumpulan yang paling alami di muka bumi sampai akhir zaman adalah ikatan darah dan kebangsaan/etnis. Artinya ikatan-ikatan organisasi apa pun yang dibentuk di zaman modern ini akan mudah rapuh dibandingkan ikatan alami yang sudah digariskan oleh Allah.

Jika umat Islam berpegang pada ikatan alami itu, sembari menunaikan perintah-perintah al Quran yang sudah sangat jelas yakni memelihara keluarga besarnya dari jerat kemiskinan dan kebodohan sistemik yang dibangun oleh sistem global dan politik negara yang menindas seperti sekarang, maka sebenarnya umat Islam telah memulai kebangkitan. Itulah mengapa, saya menemukan kesadaran bahwa keluarga itu lebih penting dari negara. Meski demikian, kecintaan terhadap keluarga tetap harus dilandasi dengan kebenaran Islam, bukan asal membela secara fanatik, apalagi dikaitkan dengan urusan-urusan politik.

Jika trah-trah masyarakat dibangun kembali dengan solid, dilandasi dengan nilai-nilai Islam (sekalipun anggotanya secara formal tidak menjadi seorang muslim) maka akan terjadi revolusi sosial yang sangat dahsyat. Bukankah sebenarnya sangat aneh jika hari ini antara keluarga malah berseteru secara politik demi berebut kekuasaan. Mengapa tidak kompak saja membangun kerajaan-kerajaan kecilnya yang dilandasi keadilan. Saling berjejaring antar keluarga dalam ikatan-ikatan muamalah yang adil. Biarlah institusi negara bergerak sesuai kehendak penguasanya, tapi keluarga-keluarga muslim merdeka dan tidak tunduk sebagai bawahannya. Tidak perlu kita melawan negara, tetapi juga tidak harus selalu taat pada negara jika kebijakannya konyol.

Tatanan modern saat ini memang menipu, seakan-akan menawarkan hidup yang damai dan liberal. Tapi pada faktanya tidak. Berbagai manipulasi dihembuskan tidak karuan mulai dari perusakan institusi pernikahan, tingkah laku hubungan seksual yang menyalahi kodratnya, dan berbagai perbudakan yang dijalankan secara halus. Sedangkan aturan Islam tidak demikian, Islam meletakkan keluarga menjadi salah satu pilar penting dalam pembangunan SDM, sebagaimana Islam sangat menghargai nyawa satu manusia. Dan konsep itu dedel duel dirusak oleh tatanan modern baik dalam wujud negara, parpol, dll yang akhirnya meletakkan kepentingan ekonomi dan kapital sebagai tujuan meski harus mengorbankan jutaan nyawa. Kita sangat mudah melihat bagaimana setiap orang berlomba ingin jadi penguasa, tapi mereka sama sekali tidak peka ketika lewat jalan rusak dan membahayakan para pengguna jalan. Karena memang urusannya adalah karir politik mereka. Kalau cuma satu rakyat mati, ya itu cuma angka saja. Dan penguasa semacam itu, po patut diakui. Nek aku ora sudik.

Juwiring, 7 Februari 2017

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.