“Politikus harus jujur!” Kata orang-orang itu.

Saya dulu juga berpikir seperti itu. Tapi ternyata harapan semacam itu tidak tepat.

Pada kenyataannya, politikus itu memang biasa melakukan segala cara untuk mencapai tujuannya. Jadi rasanya susah mengharapkan mereka lurus-lurus saja.

Itulah mengapa orang-orang yang berakal sehat berinisiatif menciptakan sistem yang membuat para politikus tetap bisa mengejar tujuannya, tapi tetap harus mengatasi berbagai batasan.

Sehingga slogan, “politikus boleh berbohong, tapi tidak boleh salah (mengambil keputusan)” memang begitulah adanya sejak zaman orok hingga sekarang. Berbeda dengan orang yang berakal sehat, mahaguru, begawan, resi, atau yang sejenisnya, “mereka boleh salah, tapi tidak boleh berbohong”.

Jadi jangan ruwet-ruwet menguliti apakah para politikus itu jujur atau bohong. Tapi amati dengan jeli keputusan politik dan akibat-akibatnya. Jika salah, besok jangan diberi kesempatan lagi. Jangan dimaklumi dan cari-cari pembenaran ala-ala langitan pakai fatwa-fatwa spiritual segala. Keputusan politik itu obyektif kok dan bisa dirasakan bersama-sama.

Demokrasi itu butuh urun akal secara maksimal dan menekan laju perasaan sekuat tenaga. Dan harus empan papan. Kalau Pak Jokowi lagi ngemong Jan Ethes, lupakan dulu baju presiden-nya. Itu Mbah Jokowi lagi momong cucu. Besok kita juga bakal jadi mbah kok. Tapi kalau Pak Jokowi lagi pidato dan bicara soal infrastruktur atau yang lainnya nah catat dan teliti isinya, telaah, dan respon dengan sebaik-baiknya, dan pasti harusnya banyak kritikannya.

Jadi, biarkan politikus melakukan segala cara, tapi kalau salah, seharusnya kita segera menghukumnya, dan “mengubur” namanya secepat-cepatnya. Kalau kamu nunggu politikus harus jujur, maka lantiklah para malaikat sebagai anggota parlemen dan presiden, serta wajibkan ia mengangkat sesama malaikat sebagai menterinya.

Surakarta, 28 Januari 2019

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.