Dari sejarahnya, fiqih itu lahirnya selalu di belakang realita. Artinya realita muncul dulu, baru dibahas dan dibakukan oleh fiqih.

Maka, orang yang beragama semata-mata mengandalkan fiqih akan selalu jadi bulan-bulanan realita. Mengapa umat Islam hari ini terjerembab dalam bulan-bulanan realita? Sebab terlalu dominan pada fiqih.

Memegang fiqih itu penting, tapi bukan segala-galanya. Nabi Muhammad menjalani kehidupannya dengan membangun realita. Apa pijakannya? Akhlak dan kehendak baik dalam dirinya. Maka dari itu, orang yang ber-Islam sebenarnya lebih tepat disebut me-Muhammad-kan diri.

Inti dari pe-Muhammad-an diri adalah bagaimana berproses mengharungi kehidupan dengan kesungguhan dan senantiasa melakukan perhitungan atas realita yang dilakukan. Dengan senantiasa melihat ke dalam diri secara sungguh-sungguh, maka di situlah kita menemukan kesejatian bagaimana Allah menitahkan kita hidup.

Dengan kesadaran itulah, fiqih membantu kita mengaktualisasikan. Perlu diketahui, fiqih itu kan produk pemikiran, maka sudah pasti banyak versinya. Jika kita mengikuti fiqih tanpa pijakan kesadaran diri pasti akan bertengkar sebab adu benar-benaran menurut versi fiqih yang kita ikuti. Hingga hari ini, perdebatan fiqih tidak pernah ada kata selesai. Tapi bagi orang-orang yang telah menikmati hidupnya, dia akan mengambil salah satu fiqih tanpa ikut lagi meramaikan perdebatan yang tidak bermanfaat bagi kehidupan bersama.

Menyikapi fenomena riba, demokrasi, dan berbagai realita sains dengan produk-produk fiqih abad 3-5 hijriyah tanpa diikuti tasawuf yang sungguh-sungguh, akan bikin umat njungkel njempalik tidak karuan. Dan tak jarang, ternyata elit-elit agama sering memanfaatkan umat untuk kepentingan golongan mereka sendiri-sendiri. Di situlah kita merindukan pemimpin yang sejati, yang menyatukan umat dalam persaudaraan Islam, tanpa terus menerus meributkan versi fiqih dan pergerakannya.

Mungkinkah? Mungkin. Tapi tentu saja yang bisa dipersatukan adalah umat yang memang mau bersatu. Yang masih ribut dengan versi-versinya, ya ditinggal saja.

Surakarta, 26 Januari 2019

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.