Saya jadi curiga, kayaknya kita itu sebenarnya juga bangsa yang hobi berperang.

Bedanya, kita mencari sarana-sarana pertengkaran yang penghancuran fisiknya minim.

Sehingga kita itu sangat pelit untuk kulakan senjata, tapi kita sangat gigih untuk mempertengkarkan hal-hal yang sangat tidak bermutu sekalipun.

Maka beruntunglah kita kena penetrasi medsos. Medsos adalah senjata sekaligus medan pertempuran yang sangat menggairahkan dan cocok untuk iklim pertengkaran bangsa Indonesia.

Urusan perang dengan senjata biar dijalankan oleh bangsa manusia di Timur Tengah. Mereka dari dulu memang suka perang fisik. Toh mereka yakin bahwa masing-masing yang berperang merasa di pihak yang benar. Bahkan mereka mungkin yakin bahwa pertempuran mereka dibantu oleh Tuhan.

Nah, kita pun sama. Saya yakin para pengusung narasi peperangan terkait apa pun isu di negeri ini juga yakin pihaknya yang paling benar. Apalagi kalau sudah membahas soal copras capres, masyaAllah saya cuma bisa mengagumi betapa kuatnya iman orang Indonesia dalam bertengkar. Seolah-olah capres itu setara Nabi cuma minus wahyu saja.

Jadi, siapa bilang kita bangsa yang cinta damai. Itu cuma khayal. Catatan sejarah masa lalu kita pun syarat dengan perang kok. Mari akui saja kita itu bangsa yang suka perang. Cuma tingkat kejeniusan kita dalam berperang sangat tinggi sehingga tidak banyak menimbulkan kerusakan fisik. Sebab fisik rusak masih bisa dibangun. Makanya sasaran perang kita adalah kewarasan pikiran.

Agar perang sesama kita maksimal, maka kita tidak perlu capek-capek melakukan perang fisik. Tahap peperangan kita dimulai dengan menjadi bodoh. Bagi bangsa lain bodoh itu sesuatu yang mereka lawan. Kita tidak, saking jeniusnya bangsa kita maka kita berjuang mati-matian untuk menjadi bodoh. Setelah bodoh maka kita saling menularkan kebodohan agar tercipta situasi kebudayaan yang bodoh. Lalu dalam situasi kebudayaan yang semakin bodoh kita lakukan peperangan tanpa kehancuran fisik.

Pilpres 2019 ini adalah salah satu hasil dari proses perang tingkat tinggi yang kita selenggarakan. Sungguh pencapaian kejeniusan yang tidak bakal ditandingi bangsa lain. Eropa dan Amerika malah ketinggalan jaman. Mereka harus memangkas anggaran sosial di negara mereka hanya untuk riset-riset yang berujung pembuatan senjata nuklir. Kalau senjata itu diluncurkan beneran, bangsa manusia musnah, perang segera berakhir. Jadi itu jelas sebuah tindakan bodoh. Makanya bangsa kita tidak melakukannya.

Bangsa kita super jenius. Agar perang bisa berjalan selama mungkin, maka sarana perang kita selalu baru dan menghindari kontak fisik. Setidaknya lima tahun terakhir ini telah terjadi peperangan masif yang tidak bakal bisa disaingi oleh negara manapun, termasuk timur tengah. Perang sesama anak bangsa Indonesia adalah perang yang durasinya paling lama dan tanpa istirahat. Selalu muncul inovasi perang baru dan semuanya tidak mengakibatkan kerusakan fisik. Semuanya menghasilkan produk baru yaitu kebodohan.

Bagi bangsa yang jeniusnya berlebihan, menjadi bodoh adalah sebuah pencapaian besar. Saya selama ini salah menilai dan menganggap rendah bangsa Indonesia. Setelah membaca tulisan Romo Magnis Suseno, saya baru paham betapa bangsa Indonesia itu sangat jenius sejak dari lahirnya. Makanya, kita tidak menempuh cara-cara seperti Barat yang berusaha pintar, sebab mereka bodoh dan hingga hari ini tetap bodoh. Kita yang sudah terlalu jenius, sekarang perlu belajar mati-matian untuk menjadi bodoh. Sebab dengan menjadi bodoh kita bisa sejajar dengan Eropa dan Amerika Serikat yang sekarang sudah memiliki senjata nuklir.

Senjata nuklir adalah pencapaian terbodoh manusia. Jadi bangsa kita yang jenius tidak ingin kalah dalam pencapaian soal kebodohan. Makanya kita kembangkan teori perang yang kualitasnya lebih ampuh dari perang nuklir.

Surakarta, 12 Maret 2019

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.