Demokrasi itu antitesis dari kekuasaan yang sentralistik. Maka seharusnya rakyat yang siap berdemokrasi, siap pula membangun pemerintahan yang kecil-kecil.

Sebab mengawasi pemerintahan yang kecil-kecil itu lebih masuk akal dan efektif, ketimbang mengawasi pemerintahan super besar yang birokasinya gemuk dan panjang.

Kalau di Indonesia ini, demokrasinya di bagian mana? Milih presiden dan parlemen, lalu pasrah borongan ke mereka selama 5 tahun, ya bukan demokrasi lah. Itu cuma undian milih pelaksana mandat. Pilpres 2019 nganggo uncalan koin wae malah simpel. Ora marai rame.

Di mana kita bisa menyalurkan aspirasi dan mengawasi mereka secara fair? Apakah rapat-rapat para anggota dewan ditayangkan secara live di televisi? Apakah mereka menjalankan proses serap aspirasi yang maksimal? Apakah kita bisa menuntut pelengseran mereka dengan indikator-indikator yang obyektif?

Kalau kita cuma disuruh milih, lalu pasrah bongkokan selama 5 tahun, namanya perjudian dobol. Orang pasang taruhan saja durasi waktunya nggak pernah sampai 5 tahun kali. Paling pasang taruhan ya cuma sepanjang pertandingan klub A vs klub B. Setelah itu selesai. Kalau klub yang diberi taruhan menang kita untung, kalau kalah kita kehilangan. Dan itu kita bisa saksikan dengan live sebab menang atau kalahnya.

Lha kalau peristiwa parlemen dan pemerintahan, di mana kita bisa menyaksikan pertandingannya? Pernahkah kita mendapatkan info lengkap sebuah kebijakan diperdebatkan hingga disahkan? Pernahkah kita ikut menyimak rapat kabinet secara utuh sehingga kita tahu segala perdebatan yang ada di dalamnya? Tidak harus semua rakyat tahu, tapi setidaknya parlemen dan pemerintah menyediakan channel yang bisa diakses lengkap oleh perwakilan-perwakilan rakyat yang ahli di bidangnya.

Hayo di mana kita memperoleh akses itu semua? Njuk kowe percaya apa yang berjalan ini adalah demokrasi. Demokrasi dengkul ya? Hahaha

Surakarta, 17 Maret 2019

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.