Saya memaklumi, pasti sangat berat membayangkan tatanan masyarakat sipil yang kuat yang tidak dikungkung kekuasaan. Sebab kita pernah hidup 32 tahun dalam era Orde Baru, kemudian 7-8 tahun dalam Demokrasi Terpimpin yang totaliter, dan sebelumnya berada dalam alam monarki yang sangat panjang.

Era keterbukaan informasi dan kecepatan komunikasi sebenarnya bisa menjadi jalan kita mewujudkan supremasi sipil. Dan kalau bicara referensi dan sumber inspirasi, al Quran cukup lengkapĀ memberi gambaran kisah dan metodologinya. Artinya, umat Islam di Indonesia sebenarnya punya kesempatan emas untuk membentuk supremasi sipil ini juga.

Tapi, kesempatan itu mungkin akan berlalu sia-sia. Wong kemudahan informasi dan kecepatan komunikasi justru melahirkan perang medsos. Perang medsosnya pun topiknya lebih pada urusan siapa dukung klub penguasa mana. Padahal nanti ujung-ujungnya yang berkuasalah yang akan jadi pemain utamanya. Mereka yang pegang kendali dan akan mengikuti jejak pendahulunya, walau mungkin beda cara.

Padahal jika kembali ke substansi demokrasi, di mana transformasi dari yang sebelumnya tersentralisasi pada sosok penguasa terdistribusi kepada rakyat sebagai demos, tentu apa yang berjalan di negeri kita masih belum apa-apa. Jadi gambaran masyarakat demokrasi yang ideal tentu saja bukan masyarakat yang dikendalikan oleh penguasa yang kuat. Justru menurut saya masyarakat demokrasi adalah masyarakat yang tidak demen urusan kekuasaan. Mereka membuat perjanjian setara dan saling mematuhinya.

Dengan dukungan teknologi yang semakin canggih, tatanan masyarakat demokratis semacam itu seharusnya semakin mudah diwujudkan. Tapi ternyata, kita memang belum menghendaki terwujudnya tatanan masyarakat demokratis dalam arti yang sesungguhnya. Kita lebih suka memaksakan suatu kejadian yang sebenarnya mirip dengan main lotre, bahkan lebih banal, dengan sebutan demokrasi. Lebih konyol lagi, kita sebut pemilu sebagai pesta demokrasi. Siapa yang pesta?

Surakarta, 15 Maret 2019

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.