Kagumilah bangunan-bangunan Candi dari sisi ketekunannya moyang bangsa ini dalam membuat rancangan arsitektur yang rumit, halus, dan presisi. Karena terbukti hingga hari ini, tidak ada satupun arsitek dan insinyur sipil di dunia yang mampu membuat bangunan Candi sekokoh itu lagi. Artinya teknologi bangsa kita sedang downgrade sampai level ndlosor kaffah.

Semoga dari melihat Candi kita terpantik untuk kreatif dan berinovasi lagi. Menghidupkan kebudayaan dengan pendekatan rasional dan spiritual yang berimbang. Tidak seperti sekarang, yang ekstrimnya luar biasa. Ada yang ekstrim pada teks tapi anti konteks, ada yang ekstrim pada rasio tapi kurang pakai rasa dan sebaliknya, dan berbagai keekstriman lainnya yang sebenarnya semuanya mengarah pada bentuk-bentuk robotisasi. Padahal kita manusia, bukan robot. Bukan pula jin yang dalam imajinasi kita bisa bikin sesuatu tinggal mak “cling”.

Jadi tolong jangan baper amat dengan realitas Candi terhadap soal keimanan umat Islam. Meski, dahulu sebelum digali lagi oleh Raffles dan para orientalis, bangunan Candi telah terkubur, sekarang apa boleh buat. Apa mau dihancurkan? Sudahlah, rubahlah setting kepala kita tentang candi. Kita ambil sisi pembelajaran dari peninggalan sejarah nenek moyang kita itu.

Lagi pula, apa ya orang sekarang itu kesyirikannya terhadap arca dan candi? Kayaknya sudah tidak. Kesyirikan kita sekarang kan udah ganti. Tuhan mayoritas umat manusia sekarang kan uang, apa pun agamanya. Isi doa, niat bekerja, dan berbagai bentuk kreativitas manusia sekarang bisa menunjukkan kok apakah tuhannya memang Tuhan yang ia yakini, atau uang. Apalagi tuhan uang tidak menuntut aneka ritual khusus untuk menyembahnya. Karena penyembahan terhadapnya bisa include di semua ritual keagamaan bahkan di semua amal kebaikan. Dan di antara sesama kita, tidak bisa saling membaca isi hati dan pikiran kan. Kesyirikan jenis ini susah diketahui, hanya dampaknya bisa dirasakan secara nyata. Makanya pemberantasan kesyirikan gaya baru semacam ini lebih susah.

Kesyirikan ini dilengkapi dengan kebodohan massal kita. Jangankan membuat Candi yang filosofinya tinggi semacam itu. Wong mencerna informasi dengan tepat saja susahnya minta ampun sekarang. Perkawinan antara kesyirikan dan kebodohan ini sudah mewujud dalam berbagai hal yang lucu di sekitar kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.