Mbah Nun sudah pernah mengulas betapa tidak percayanya kebanyakan orang sekarang terhadap kemurnian. Sehingga kalau ada tindakan baik, pasti dikejar motifnya dalam rangka apa. Kalau dijawab “ya dalam rangka berbuat baik, lillahita’ala”, mayoritas orang tidak percaya.

Ketidakpercayaan ini tidak lahir tiba-tiba, tetapi oleh realitas di mana memang banyak orang berbuat baik sebagai lipstik di muka. Di belakangnya penuh dengan muslihat dan kepentingan yang biasanya diiringi keserakahan. Sehingga jika ada satu dua orang yang konsisten berbuat baik terus menerus tetap saja akan dicurigai habis-habisan.

Jika Mbah Nun yang kini usianya sudah 63 tahun konsisten untuk tidak menjadi siapa-siapa selain mewakafkan hidupnya sebagai pekerja sosial seperti itu saja dicurigai dan dituduh macam-macam, bahkan dicoret dalam daftar tokoh yang berperan dalam sejarah negeri ini, dalam sejarah jilbabisasi muslimah, dalam sastra dan kebahasaan, dalam mediasi konflik-konflik besar di tanah air, apalagi kita yang kiprahnya hanya seiprit ini. Jangan tanya lagi nasib tukang tambal ban, petani, dan mereka yang ikhlas mengabdi menjalani hidup dalam sunyi dan kesetiaan itu, siapa yang akan mengingat mereka.

Karena dunia sekarang sedang dipenuhi artis yang saling sikut dan kerah untuk berebut tempat dan pamer lewat layar kaca maupun layar gawai. Betapa semlohainya dunia pencitraan sekarang. Dunia tipu-tipu yang begitu lezat ini akan terus berlangsung menggerus pikiran orang-orang agar semakin tidak waras. Ia hanya akan berhenti saat orang-orang mulai sadar akan kerusakan dititik nadir, sembari teriak-teriak bak orang sekarat atas keterlambatan sadarnya.

Dan masihkah kita percaya dengan kemurnian itu sekarang? Atau jangan-jangan kita adalah hamba dari screenshoot yang hanya menyajikan kamuflase demi kamuflase kehidupan ini.

Juwiring, 2 April 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.