Teori-teori kehidupan yang berpijak pada materialisme menciptakan tata aturan baru yang benar-benar membuat Allah seolah tidak penting. Ambilah model tata kelola kenegaraan dan pelayanan masyarakat di negeri-negeri (yang katanya maju) seperti Eropa. Dengan sistem negara yang bertanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan materi masyarakat, sementara dalam pola pikir masyarakat kesejahteraan itu identik dengan materi, maka di situlah Tuhan Allah jadi tidak begitu penting. Karena semua sudah bisa diatur oleh sistem demokrasi, mesin, dan komputer, apa Tuhan masih diperlukan? Demikian pertanyaan retoris ketidaktahuan mereka.

Allah baru dicari saat orang-orang mulai menyadari kehampaannya. Allah baru dicari saat orang-orang dipuncak kekayaannya, kefrustasiannya, kegagagalannya, dan segala hal yang ekstrim. Sebagian besar terus menjalankan ritme penenangan diri setiap akhir pekan di diskotik yang hampir tersedia di setiap basemen Apartemen mereka. Tetapi sebagian kecil akhirnya mulai meraba-raba menncari hakikat kehidupan dan menemukan Sang Maha Pemberi Kehidupan itu. Makanya di Eropa, ketika orang menemukan cahaya hidayah itu, bukan main girangnya mereka. Perlahan namun pasti, wajah ateisme/agnostik mereka akibat kehidupan modern nan materialis itu disinari cahaya Allah.

Sementara di negeri-negeri Timur, tipuan materi dan kegemerlapan hidup justru sedang menuju puncaknya. Lupakan bicara negara Timur Tengah bagian teluk. Jangankan negara-negara Teluk yang sekarang berlomba membangun gedung. Bahkan Haramain saja sudah dikebiri dengan bangunan menara jam dan penghancuran beberapa situs bersejarah. Bahkan nuansa haji yang seharusnya dijaga agar yang berhaji itu benar-benar orang yang niat untuk pulang ke Rabb-nya, sekarang jadi berasa tamasya karena pemberian layanan fasilitas yang tidak dipertimbangkan sisi filosofi perjuangannya. Pokoke sing penting nyaman dan mewah kayak gaya-gaya bangunan Eropa.

Makin ke Timur, ke Nusantara suasananya makin “nganu”. Di sini, yang kelas menengah sebagian sedang menuju kehancurannya dengan meniru gaya-gaya sok modern-nya Eropa itu. Sementara sebagian yang lebih besar lagi dari rakyat negeri ini makin terhimpit dalam mainstream “pemiskinan” akibat sistem ketidakadilan yang diciptakan. Tapi di sinilah justru Allah semakin dirasakan kehadirannya. Di saat sebagian elit mulai menghina Allah dengan korupsi tapi tetap umrah, dengan menipu rakyat tapi sok-sok shalat, dengan mengumbar janji tapi sok-sok ngomong dalil agama, Allah masih menangguhkan azabnya untuk negeri ini tersebab banyaknya rakyat kecil yang tertindas tapi tetap ikhlas dan tulus berdoa untuk kebaikan. Allah masih dekat dengan masyarakat negeri ini, meskipun kita mungkin masih lugu di tengah himpitan penipuan yang begitu dahsyat.

Sebejad-bejadnya orang Barat, mereka berpakaian terbuka, berhubungan bebas, dan melakukan hal-hal yang rusak itu secara massal, karena ketidaktahuan mereka akibat pola pikir materialisme yang masih menjadi mainstream. Di sana, orang yang ketahuan korupsi masih punya rasa malu untuk mundur dari jabatannya karena harga diri. Di sini dua kutub ekstrim bertemu, di satu sisi rakyat yang terus lugu dan menyayangi pemerintahnya (sekalipun ditindas setiap tahunnya), di sisi lain ada sebagian elit-elit pemerintah yang lebih Firaun dari pada Firaun. Firaun itu mengaku sebagai tuhan setelah dia memakmurkan rakyat Mesir dan menindas bani Israil, tetapi di sini sudah jelas rakyat bangsanya sendiri tertindas, masih tega-teganya korupsi, menipu, mengintimidasi, dan merusak pikiran orang-orang baik di birokrasi agar menyerah pada praktek-praktek busuk para politisi tersebut.

Di Barat, mereka mulai bosan dengan materialisme yang diciptakan ilmuwan-ilmuwan masa lalu mereka yang ateis. Mereka merindukan Allah-nya dengan segala bentuk pencarian mereka. Di Timur, sebagian mulai tertipu. Agama bukan lagi menjadi kendaraan menuju Allah, tetapi menjadi komoditi jualan baru untuk mencapai gaya hidup Barat. Tapi itu bagi mereka yang memang sedang menuju kehancuran. Sebagian lagi masih bertahan pada spirit nenek moyang mereka, bertahan dengan kehidupan “pertapa” di tengah hingar bingar modernitas yang semu. Mereka hidup di tengah-tengah masyarakat yang sedang menuju kehancuran itu, mereka berbagi nilai dan tetap berjuang untuk tidak kalah dengan tipuan-tipuan yang dibangun Dajjal yang telah mendunia ini.

Timur tak akan pernah mati, akan lahir generasi militan yang dijanjikan di akhir zaman nanti. Mereka adalah generasi yang “tan kengguh mring godhaning kadonyan”. Di Barat akan terlahir pula generasi bertuhan yang akan membebaskan ibukota Romawi Barat dengan pekik takbir, tanpa perang dan pedang terhunus. Janganlah berdoa kepada Allah untuk mempercepat kiamat, dan janganlah risau dengan tanda-tanda kiamat yang semakin dekat, itu kehendak-Nya. Sakkarepe Gusti Allah, ora sah kakehan protes. Jalani …. jalani saja takdir dan tugas kita di sini. Mari kita terus bergerak menemukan Allah kita.

Surakarta, 1 September 2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.