Ilmu populer yang dilandasi filsafat materialisme akan terus berkembang dinamis mengikuti konteks masyarakatnya. Misalnya dahulu hubungan sesama jenis dianggap salah, seiring terjadinya perubahan sosial di masyarakat maka ilmu terbaru mengesahkan status hubungan itu. Nanti akan banyak terjadi koreksi atas ilmu baik sosial maupun sains seiring dengan bukti-bukti empirik baru yang ditemukan.

Hal ini berbeda dengan prinsip keilmuan yang dilandasi Islam. Islam memiliki patokan teks yang jelas, tetapi juga memberi ruang dinamika masyarakat agar ilmu-ilmu baru dapat terlahir selama tidak menyimpang dari patokan teks yang sudah asasi tadi. Islam juga tidak sekaku konsep yang baru-baru ini ada dengan istilah sakklek “itu tidak ada di zaman nabi”. Makanya dalam Islam ilmu periwayatan dan sanad guru itu penting. Tetapi proses observasi dan riset empirik juga tidak diabaikan.

Maka keilmuwan Islam berdasarkan catatan sejarah di masa Abassiyah dan Andalusia banyak berkembang di dalam wilayah fikih, sastra, humaniora, dan sains untuk pengabdian (seperti kedokteran, transportasi, dan hal2 yang sifatnya non senjata). Setelah kedua pusat Ilmu Islam itu dihancurkan, lahirlah peradaban baru yang lebih dominan dengan militer. Mongol melahirkan wajah penguasa Islam baru yang kuat secara militer. Eropa pun tumbuh dengan wajah militer dengan semangat kolonialismenya. Ilmu yang mereka pelajari dari peradaban Islam Andalusia dikembangkan untuk kepentingan penjajahan mereka.

Hari ini, puncak dari perkembangan sains pasti bermuara ke teknologi persenjataan. Mengapa? Karena setiap negara dihantui kecemasan akan terjadinya perang kembali. Dan ada beberapa negara (you know lah) yang sengaja terus mengembangkan senjata di bidang biologi, kimia, dan fisika dengan sistem kontrol teknologi informasi yang semakin canggih.

Di tengah situasi seperti ini, beruntunglah kita hari ini masih dikaruniai banyak ilmuwan yang memiliki kesadaran baik untuk menahan gejolak perkembangan ilmu yang dipenuhi nafsu materialisme itu agar tidak semakin merusak. Kita masih optimis dengan beberapa ilmuwan yang berkomitmen untuk tidak mengembangkan penelitian yang berujung pada persenjataan dan pemusnahan manusia. Meski demikian, ancaman pembunuhan baik dengan cara mekanik, kimia, bakteri, hingga virus terus ada di sekitar kita bukan? Nah, jadi hari ini sebagai mahasiswa dan para intelektual, kita mau menjadi bagian yang mana.

Life is choice. Setiap pilihan punya akibatnya di kemudian.

Surakarta, 26 Agustus 2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.