Satu buku di edisi santai sore tadi, setidaknya bahwa edisi menjual Indonesia di Konvensi Jenewa 1967 dan kisah pemerintah boneka itu hanya cerita berulang. Kisah pengkhianatan, kudeta, dan koalisi ruwet itu juga hanya cerita berulang. Jadi seandainya PKI kembali ada, bukan tidak mungkin di daerah-daerah tertentu akan berkoalisi dengan partai-partai Islam. Mengapa? Karena itu urusan politik. Apa yang tidak mungkin dari politik, apalagi politik uang zaman sekarang.

Sejarah Jawa Islam berakhir di era Sunan Giri Prapen, Ratu Kidul menjadi kiblat baru. Sejarah Kejayaan Jawa berakhir di era Sultan Agung. Di masa setelah itu, Sultan mulai bercerai dengan Ulamanya, lebih percaya VOC. Maka jual beli negara dan harga diri telah dimulai dan terus berlanjut hingga kini. Itulah mengapa Diponegoro menyerukan Perang Jawa. Itulah mengapa Ranggawarsita sudah menggelari masanya dengan jaman edan. Apalagi zaman ini, apa namanya?

Pesan untuk para “ksatria-santri”, bersabalah, teguhkan kesabaran, dan waspadalah karena semakin banyak tipu daya yang terus ditabur untuk menyuburkan permusuhan dan membodohkan masyarakat. Dunia pesantren dan pemerintahan akan terus disekat agar tidak pernah berkawin indah lagi. Masa yang pernah harmoni antara Demak dan Walisanga dikaburkan sebagai mitos, ditendesikan pada cerita takhayul, dipancinglah kaum ahistoris untuk berfatwa klenik agar umat jauh-jauh dari sejarah. Mereka sertakan argumen-argumen dengan bangunan filsafat modern yang materialistik dipadu dengan ketiadaan unggah-ungguh. Memprihatinkan.

Lalu, kita yang biasa berdamai dan berdiskusi, disuguhi cara-cara kasar dari negeri perang sono untuk menyelesaikan perbedaan. Kita dipengaruhi untuk menjadi berbudaya seperti mereka. Piye ceritane? Seorang muslim ya harus komitmen dengan idiom-idiom Islamnya, diiringi idiom kebudayaan masing-masing yang sejalan dengan Islam. Kok saiki malah digawe doktrin idiom mereka itu sekaligus idiom Islam. No way lah aku. Mereka mengajarkan cara bermusyawarah dan bersatu aja nggak bisa, masak kita yang udah bersatu puluhan dekade ini suruh niru mereka, konyol banget. Mereka beda pendapat, mudah angkat senjata, baik karena keyakinan atau karena diadu domba. Mereka rapuhnya kayak gitu kok, kita malah sekarang mengadopsi cara-cara komunikasi dan kebudayaan mereka, piye sih.

Luka-luka perang antar daerah yang pernah berkecamuk akibat koalisi yang dinamis ditambah dengan nafsu berkuasa yang besar telah diredam dalam semangat kebersamaan baru di era Sjarikat Islam, Moehammadijah, dan Nahdhatoel Oelama dan organisasi kepemudaan yang berskala besar. Ingat Soempah Pemoeda kan? Ingat Majelisul Islam A’la Indonesia kan? Ingat Majelis Syura Muslimin Indonesia di era pendudukan Jepang? Ingat resolusi Jihad Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari untuk menghadang tentara sekutu (Inggris)? Ingat Mosi Integral Muhammad Natsir kan? Itu adalah masa-masa indah persatuan yang kembali tercipta pasca runtuhnya Mataram Islam dan kerajaan-kerajaan besar di Nusantara akibat adu domba yang dilakukan VOC. Kini perpecahan kembali ditebar lagi, baik dalam perpecahan madzhab, rasisme, hingga persoalan politik. Mau ikut meramaikan? Aku moh.

Ini era kegelapan (kata Simbah), sekaligus era kelahiran. Tinggal pilih, mau ikut yang menuju kehancuran, atau yang menuju kebangkitan. Makanya dari pada gethem2 menuntut orang2 di istana dan Senayan sebagai politisi, mbok sudah pandang saja mereka sebagai manusia. Karena kalau politisi beneran ya ndak kayak gitu. Kalau kita mampu bersikap merdeka dan menganggap mereka manusia setara dengan kita, maka kita tidak akan galau. Semoga suatu saat kita mampu untuk bikin perhitungan dengan mereka. Mereka dibayar kan untuk melayani kita. Lha kalau nggak melayani dengan baik, jatahnya ya harusnya bisa kita kurangi to. Nah, mekanisme itu yang perlu kita buat bersama sejak sekarang. Piye carane? Karo mlaku mikire, sing penting aja udur wae.

Surakarta, 1 September 2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.