Dakwah itu ya menyeluruh, semua pos diisi dan diperjuangkan. Sekarang pos kebudayaan, sastra dan bahasa, jurnalistik, filsafat, sejarah, pendidikan, mengalami kekosongan serius. Belum begitu terlihat siapa yang menggantikan Hamka, Ajip Rosyidi, JS Badudu, Kuntowijoyo dll. Bahkan jika ada seorang muslim yang menekuni pos-pos itu acapkali diserang dengan opini dan tuduhan aneh-aneh yang membuatnya akhirnya tumbuh liar.

Padahal pos-pos itu adalah pos yang mampu merangkai opini dalam membangun cara berpikir masyarakat agar keluar dari jerat kebodohan yang sudah tertanam di era kolonialisme. Sekarang malah terlalu banyak menumpuk di pos politik, ekonomi, syariah dan teknologi. Akhirnya saking banyaknya ahli di sana sehingga sesekali muncul polemik. Sementara sibuk berpolemik, pos-pos yang kosong diduduki oleh orang lain. Begitu opini ditebar, akhirnya mencak-mencak ra karuan.

Dan sekarang jadi aneh, orang-orang yang konon dikesan semakin mendalami Islam malah jadi phobia, lalu dikit-dikit awas ini, hati-hati begitu, hingga puncaknya nanti, jangan …. jangan …. jangan …. Padahal masyarakat kita bukan kaum verbalis semacam itu, masyarakat kita adalah kaum yang hidup dalam nuansa halus yang perubahannya menggunakan cara kebudayaan. Ah lagi-lagi yang membuat status ini bukan siapa-siapa juga sih. Nggak level didengerin. Hahaha

Surakarta, 11 Agustus 2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.