Info di belakang layar soal masifnya kematian petugas lapangan di pemilu 2019 ini bikin saya misuh sebenarnya.

Saya mangkel sekali dengan para dalangnya, sekaligus sedih dan simpati pada keluarga yang kehilangan anggotanya gara-gara terlibat jadi petugas lapangan.

Apalagi melihat framing yang kini pelan-pelan mulai muncul ke permukaan. Seperti yang saya duga, sebentar lagi akan muncul bias-bias perasaan dari kekejaman pemilu 2019 ini.

Pahitnya mengkritik kinerja KPU yang tidak profesional di tengah berjatuhannya korban jiwa yang sudah melebihi korban bom Bali. Derasnya kritik akan dihadang dengan ujaran untuk simpatik pada korban yang meninggal.

Sebagaimana terbelahnya elektorat kita jadi cebong dan kampret, soal KPU ini lama-lama juga akan hitam putih. Satu kubu akan menilai semua tindakan KPU hitam pekat dengan menguliti KPU secara gila bahkan tebar hoax, sementara satunya akan menilai semua tindakan KPU putih bersinar salah satunya dengan menggunakan senjata banyaknya petugas lapangan yang gugur.

Dengan kegendengan semacam itu, saya sendiri tidak tahu juga solusinya harus gimana. Tapi setidaknya, jangan terperangkap pada narasi hitam-putih. Ambil jalan tengah saja, secara obyektif kinerja KPU di pemilu 2019 ini memang amburadul dan tidak profesional. Faktornya banyak, di antaranya adalah UU Pemilunya penuh masalah dan disahkan terlalu dekat dengan masa pemilu (berarti ini ulah DPR), komisionernya kurang berkualitas (ini juga ulah DPR), dan pelaksanaannya di lapangan banyak diintervensi oleh alat-alat pemerintahan yang tidak netral sehingga menguntungkan petahana agar berkuasa kembali (ini bisa disimpulkan dua sisi, si petahananya pengin berkuasa atau si pemegang jabatan pemerintahan sedang menjilat agar tetap ikut dapat kue kekuasaan, silahkan dinilai sendiri).

Surakarta, 26 April 2019

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.