Nabi Muhammad itu, meskipun sudah berbuat baik kepada sesama manusia, pengasih, pemaaf, tetapi tetap dibenci dan dimusuhi oleh para elit Mekah.

Mengapa? Sebab Nabi Muhammad mengajarkan sebuah risalah pembebasan yang jika itu diadopsi, maka bangunan oligarki Mekah (yang merupakan persekutuan para bohir, militer, dan pemuka ajaran penyembahan berhala) akan hancur berkeping-keping.

Yang bisa menerima beliau adalah orang-orang yang tertindas dan telah lelah bermusuhan satu sama lain, lalu berharap menemukan sebuah konsep perdamaian yang sejajar satu sama lain, bukan satu pihak merasa dominan dan mengungguli yang lainnya. Maka risalah itu bisa berkembang di Yastrib dan mereformasi tatanan oligarki yang sudah kukuh di jazirah Arab.

Sayangnya, tatanan kesetaraan dan keadilan yang sudah dibangun Nabi itu kembali mengerucut menjadi imperium di masa-masa berikutnya. Puncaknya terjadi ketegangan sesama umat Islam hingga menimbulkan perang saudara yang mengerikan. Sebagian sahabat pun memilih pergi dan menyebar ke seluruh dunia, menjadi pengungsi sekaligus mengenalkan Islam yang dia dapatkan dari Nabi. Beruntung, bangsa Indonesia bisa jadi termasuk yang mengadopsi ajaran itu.

Sayangnya, hari ini model oligarki keagamaan kembali tumbuh dan diam-diam sedang mengalami rivalitas yang cukup serius. Apalagi mulai terjadi perkawinan kembali dengan kekuatan para penguasa dan pemodal. Kondisi semacam itu bisa menciptakan polaritas yang merusak keseimbangan hidup masyarakat. Hanya yang benar-benar menggunakan akal sehatnya yang akan selamat dari bencana itu. Yaitu mereka yang memelihara kesetaraan hidup sesama mereka dan sama-sama gondelan sarungnya Nabi Muhammad, tidak ikut grup-grupan dan bertengkar atas nama grup.

Sebagaimana yang berlaku di zaman Nabi, orang-orang yang menjadi penengah, menawarkan risalah pembebasan pada manusia agar tidak terperangkap pada oligarki keagamaan, politik, dan ekonomi, pasti akan dimusuhi secara kompak baik oleh para tokoh agama yang berorientasi grup-grupan, apalagi oleh politikus dan para bohir yang merasa terancam dengan kebangkitan pikiran manusia untuk merdeka. Mereka takut kehilangan pengikut dan sumber-sumber pijakan untuk mengukuhkan mereka. Lihatlah beberapa pemuka agama mulai mengeluarkan pernyataan-pertanyaan bernada perang dengan sesamanya, para politikus dan bohir malah sudah sejak lama hadir mengadu domba masyarakat.

Kontestasi antar klan agama, klan politikus, dan klan pengusaha hari ini lebih memperlihatkan bagaimana mereka semua takut kehilangan dominasinya atas manusia. Jika kita meyakini agama sebagai jalan menuju tatanan-Nya yang baik, maka biarkan nur ilahi itu meresap di sanubari kita, menghentikan kita dari berbagai perebutan kepentingan yang sifatnya sangat kanak-kanak semacam itu. Semoga dengan nur ilahi itu kita diberi keberanian untuk membela saudara kita yang dizalimi oleh korporasi, berani menantang para perusak bumi, dan semoga kita dipersatukan oleh cinta untuk hidup di bumi dan membangun tatanan Darussalam.

Darussalam adalah tatanan kehidupan yang harmoni di mana semua manusia yang hidup di dalamnya terjaga dalam niat baik, apa pun keyakinan mereka tentang Rabb-nya. Mereka memegangi etika dan moral serta memperlakukan bumi yang dititipkan pada mereka sebagai bagian penting yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasinya. Bukan diperkosa dan diperparah dengan perebutan tahta yang disertai dalil-dalil agama. Mungkin ini utopis, tapi para pejuang Darussalam akan terus menikmati hidupnya dengan berbuat baik sebisanya.

Surakarta, 27 April 2019

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.