Kalau banyak orang pengin jadi politikus dan keterima PNS, wajar, soalnya dapat jaminan duit besar je.

Yang aneh itu, banyak orang yang gampang percaya untuk menitipkan mandat pada politikus, padahal nggak kenal dan nggak ada jaminan.

Logikanya, kan ngasih mandat pada lurah/kades aja harusnya berat. Lurah/kades harus mengelola uang miliaran. Apalagi memberi mandat pada politikus nasional tanpa rasa was-was, padahal mereka akan mengelola uang ribuan triliun plus mengendalikan sumber daya raksasa.

Dari fakta itu, logikanya makin tinggi level pemilunya kan harusnya makin banyak golputnya. Sebab nggak merasa kenal dan rasa was-wasnya tinggi kalau-kalau uang publiknya disalahgunakan karena tidak bisa mengawasinya, sehingga dari pada ikut nanggung dosa, mending nggak ikut-ikutan ngasih mandat tapi tetap aktif mengawasi sebisanya.

Paradoks demokrasi itu salah satunya pada hal begini lho. Dulu saya pun belum kepikiran, tapi lama-lama tak pikir kok iso kebalik gini ya. Orang kok lebih mengglorifikasi politikus nasional ketimbang ketua RT-nya. Sehingga gara-gara pilpres, orang bisa bertengkar hingga putus hubungan dengan temannya gara-gara mengidolakan politikus pujaannya.

Jadi, tidak ada yang salah dari tindakan orang pengin jadi politikus dan PNS. Alasan mereka rasional semua, pengin dapat akses keuangan yang besar dan terjamin. Yang lucu itu, kok orang gampang percaya ngasih mandat, padahal nggak kenal dan nggak tau cara mengontrolnya kalau si penerima mandat menyalahgunakan.

Surakarta, 25 April 2019

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.