Ketika penyakit nggumunan sedang menjangkiti kaum kelas menengah yang terdidik. Jadilah negeriku penuh dengan kelucuan. Kelucuannya itu aneh, mau dibilang lucu ya iya, tapi memilukan.

Kalau rakyat awam nggumunan itu sudah wajar. Seperti ketika zaman “pembangunan” orde baru, ada cerita tentang petani yang mati-matian nabung untuk beli motor sport gegara habis nonton TV. Setelah terbeli cuma dilap dan dipajang di ruang tamu, karena bahan bakarnya tidak tersedia. Dia sudah cukup kagum dengan motor sportnya. Tetangganya juga kagum melihat motor sportnya, padahal motor sport tersebut cuma dipajang di ruang tamu. Nah ini asli lucu dan bikin ngakak.

Bentuk paling parah dari penyakit nggumunan hari ini adalah ketika berkaitan dengan permasalahan-permasalahan narasi Islam. Entah mengapa kelas menengah yang sedang semangat-semangatnya belajar Islam, ketika kepincut pada satu hal seolah-olah yakin dengan kebenarannya itu sebagai satu-satunya kebenaran mutlak hingga menyalahkan yang lain secara membabi buta. Munculnya kubu “liberal” dan “konservatif” di masa kini tidak lain karena kegagalan kelas menengah untuk bersikap pertengahan.

Padahal ya sederhana saja, dalam menjalani hidup ada saatnya “liberal” ada saatnya “konservatif”. Dalam berhubungan secara sosial hendaklah kita bersikap lemah lembut terhadap tetangga, jangan suka memaksakan kehendak dan berbuat sesukanya. Tetapi dalam berkeluarga masak iya membiarkan istri dipakai bergiliran oleh tetangga, atau bahkan malah menawari istri, “Bu, apa kamu ndak pengin nyoba sama suaminya mbak Anu?”. Bahkan Allah memberi contoh nyata bagaimana Dia mengajari kita hidup itu “liberal” dan “konservatif” pada tempatnya, sehingga kuku dan rambut bisa terus tumbuh memanjang sehingga lahirlah sunnah potong rambut dan potong kuku, tetapi Dia tidak menakdirkan kemaluan terus tumbuh memanjang, sehingga tidak ada istilah potong kemaluan kan. Hahaha

Hidup itu memang seharusnya normal-normal saja. Jangan nggumunan. Apalagi sudah sekelas doktor dan profesor, kok seneng syar-syer hal-hal yang klenik dan tidak bermutu.

Surakarta, 20 Desember 2017

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.