Sejak dulu, para ulama yang membawa Islam lebih memilih membumikan ajaran-ajaran Islam dalam wajah akhlak dan adabnya. Karena kalau sudah memasuki jiwa manusia, ia akan merubah banyak hal.

Penguasa-penguasa yang menerima Islam biasanya setia menegakkan hal-hal yang merusak stabilitas negara. Tentu saja ya jangan naif, semua tetap demi mempertahankan eksistensi kekuasaannya. Kemaksiatan cenderung mengganggu stabilitas negara, maka mereka pasti akan menumpasnya. Dengan demikian berbagai kemaksiatan berkurang.

Para hartawan yang menerima Islam biasanya menjadi sangat pemurah. Banyak orang miskin yang menerima berbagai kemurahannya. Tetapi ingat, mereka juga tetap ada yang ingin diketahui sebagai orang kaya, sehingga dalam menolong fakir miskin pasti juga ada yang ditampak-tampakkan di depan publik. Jadi jangan lantas berpikir bahwa semua orang kaya seperti Utsman bin Affan.

Kalau masyarakat bawah, mereka biasanya mudah menerima Islam karena para ulama selalu menggarap kebudayaan dahulu. Mereka memperbaiki bahasa lokal dan menyelaraskannya dengan al Quran. Sehingga secara kultur orang-orang bawah yang memang sejak awal mengakui kemuliaan para ulama ini langsung kepincut. Apalagi akhlak mereka luar biasa bagusnya, makanya nama-nama begawan ini akan dikenang hingga lintas zaman.

Memasuki abad demokrasi macam sekarang, tantangan dakwah kian banyak. Karena siapa pun yang mengusung dakwah rawan dicap sektarian. Karena konsep demokrasi liberal ala sekarang memungkinkan semua pihak menampilkan keaslian masing-masing. Di situlah umat Islam terjebak untuk membangun identitas Islam secara fisik baik melalui wajah fikih, bahkan kadang parahnya ada yang mengikuti nalar kapitalis dengan berbagai trend yang ada.

Identitas Islam itu memang harus ditegakkan di depan manusia. Tapi apa identitas Islam terbaik yang bisa dilihat manusia? Penampilan lahir atau akhlak? Masak iya kita menyuruh orang kagum pada Islam melalui fakta-fakta tokoh-tokoh publik Islam yang gaya hidupnya bermewah-mewah, yang kalau berkuasa sering tidak amanah bahkan ada yang korupsi pakai sandi istilah agama, ada juga yang disembah-sembah karena berbagai mitos yang dihembuskan atas mereka.

Saya masih percaya bahwa Islam akan tegak di negeri ini ketika umat Islam kembali ke akal sehatnya. Bahwa pemimpin terbaik umat adalah yang hidupnya sederhana seperti Rasulullah dan para khalifah empat. Mereka semua orang kaya, cuma Ali saja yang memang benar-benar miskin. Tetapi mereka sanggup hidup sederhana. Mereka semua mewakili semua jenis pemimpin dalam berbagai ranah. Pemimpin bukanlah seperti penggalan-penggalan definisi sekarang yang dikenal dengan istilah penguasa, politisi, tokoh agama, atau apa pun embel-embelnya. Pemimpin adalah manusia wajar yang bisa ditiru kemanusiaannya sehingga dari situ manusia merasakan kemanfaatannya.

Belajar dari hewan, hanya hewan terbaiklah yang bisa memimpin bangsanya. Terbaik di sini adalah meliputi segala kecakapan perhewanan yang telah Allah gariskan atas bangsa/jenis hewan itu. Masak iya, kita bangsa manusia mendefinisikan pemimpin manusia sama dengan konsep presiden, gubernur, lurah menurut teori modern yang dangkal ini. Itu pun cara milihnya cuma nyoblos gambarnya tiap lima tahun sekali. Yang benar saja. Mosok di zaman yang serba maju, cara berpikir manusia jadi pekok begitu. Monyet-monyet bakal ketawa lihat manusia zaman sekarang yang tidak hanya goblog, tapi ra mutu untuk sekedar mendefinisikan makna pemimpin bagi mereka sendiri. Lha kalau definisi saja salah, bagaimana menghasilkan output yang dicitakan.

Surakarta, 18 Desember 2017

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.