Latah yang lucu yang baru-baru ini muncul adalah saat mengkambinghitamkan “demokrasi” sebagai sumber kebangkrutan Yunani, lalu dengan enteng bilang coba kalau pakai K******h. Yang ngomong gitu saya khawatir diembat, lah K******h udah bangkrut hampir 1 abad lebih awal.

Sudahlah, nggak usah ribut soal idiom sistem negara. Lha wong aslinya demokrasi yang dipakai sekarang itu tidak demokratis. Buktinya boleh demokrasi asal bukan representasi umat Islam yang menang. Sementara idiom K******h yang mainstream juga lahir dari ijtihad para ulama setelah beberapa abad dari masa khilafah rasyidah.

Dan saya sendiri memilih menyebut era pasca Ali bin Abi Tholib dengan era daulah/kerajaan. Di era itu pemimpin umat secara hakikat adalah para ulama yang kita kenal termashyur kezuhudannya, yang karenanya kezaliman para penguasa tak menyebabkan perpecahan umat. Di tangan para ulama itu pula, umat dibimbing untuk setia pada Islam dan menjaga persatuan dengan kesabaran karena tak jarang penguasanya menindas.

Jadi sebagai generasi modern, kita ya tetap harus kritis dong menilai penguasa agar tidak menjadi ekstrimis. Baik ekstrim karena fanatik buta, atau ekstrim menjadi pemberontak. Inilah keunikan keteladanan para ulama, menantang kezaliman pemimpin muslim dan rela berkorban keluar masuk penjara, sekaligus melarang umat Islam mengobarkan pemberontakan yang memecah persatuan.

Jadi sebaiknya mau bikin negara seperti apa? Kok pusing, ini negara kita itu udah negara ternyaman di dunia. Yang menjanjikan kebebasan sekaligus menguji kesabaran, menawarkan sejuta kesempatan belajar. Maka sudahkah kita bersyukur hari ini?

Surakarta, 1 Juli 2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.