Mengapa saya memilih mengkonservasi sampah plastik dalam bentuk ecobrick? Sebab itu yang paling mudah dilakukan dalam skala rumah tangga. Meskipun sudah ada yang menemukan teknologi pengubahan sampah plastik menjadi bahan bakar cair, saya tidak bisa melakukannya sendirian.

Katanya ada industri daur ulang plastik. Tapi saya sendiri belum tahu aksesnya dan apakah bisa menerima pasokan plastik rumahan yang tak seberapa ini. Jadi dengan dibuat ecobrick lebih efektif dan menyenangkan. Aktivitas mlenet-mlenet sampah itu asyik ketika menjadi jeda di saat penat membaca/menulis.

Ketika belum terpakai, ecobrick juga bisa disimpan dalam wadah yang yang lebih kecil ketimbang dibiarkan dalam bentuk sampah plastik biasa. Mencari botol-botol bekas juga bukan hal sulit saat ini, sebab kebanyakan orang suka buang botol air mineral sembarangan. Ecobrick ini dapat digunakan sebagai pengganti batu/bata, tapi juga bisa untuk bahan urug yang keras pada lantai-lantai rumah yang mau dimester. Jadi dengan dipadatkan dan dikubur, dampak sampah plastik bisa diminimalisir.

Aksi-aksi semacam ini memang sangat kecil dan tentu tidak bernilai secara ekonomi, apalagi secara politik. Tapi hal ini penting menjadi kesadaran setiap rumah tangga. Sebab, sampah itu adalah kotoran masing-masing manusia. Masak iya, kita nyampah, orang lain suruh ngurusin. Jadi ini sebenarnya fardhu ‘ain. Cuma karena kitab-kitab fikih klasik belum membahas teknologi plastik, jadinya hari ini fatwa tentang masalah ini belum banyak muncul. Sebab ulama-ulama sendiri masih sibuk berdebat pada masalah klasik, yang sebenarnya banyak yang tidak relevan dengan masa kini.

Semoga kita semua menjadi lebih senang bergaul dengan sampah. Sebab sampah adalah satu-satunya produk unggulan kita. Setiap kita belum tentu melahirkan karya-karya besar yang menyejarah. Tapi setiap kita pasti menghasilkan sampah. Dan itu adalah tanggung jawab kita sendiri-sendiri.

Surakarta, 17 Maret 2019

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.