Pemerintahan yang demokratis itu bagusnya nggak sentralistik. Posisi presiden, perdana menteri, atau apa yang jadi ketua itu cuma koordinator. Sisanya badan yang bekerja secara otomatis.

Pemerintahan yang demokratis itu berjalan berdasarkan aturan yang disepakati bersama. Terbagi dalam badan-badan sendiri yang fungsional. Mereka bekerja dengan merespon, bukan menunggu perintah.

Kalau ada peristiwa alam, TNI, SAR, BNPB, dan pasukan relawan langsung bergerak tanpa harus nunggu instruksi presiden. Agar mudah koordinasinya, diatur pula misalnya BNPB sebagai pimpinan strategis dan SAR sebagai komandan lapangan.

Badan kesehatan dan pendidikan termasuk yang otomatis bekerja. Badan kesehatan bekerja begitu ada bayi lahir ditawari imunisasi, orang sakit diobati, dan sebagainya. Badan pendidikan bekerja begitu ada anak yang membutuhkan layanan pendidikan. Masih banyak lagi badan otomatis yang bisa dibuat.

Karena badan-badan itu membutuhkan suplai keuangan, maka itu tugas dari bagian lain di pemerintahan. Yakni BUMN dan lembaga keuangan. Lembaga keuangan bekerja mengelola keuangan agar efisien dan BUMN bekerja mengisi kas negara sebanyak-banyaknya. Kas negara ada badan khusus yang tugasnya nampung duit dan mengeluarkan duit berdasarkan aturan yang berlaku.

Nah, problem paling kronis di sistem pemerintahan negara kita itu,

  1. Sistemnya masih dibuat sentralistik dan rantai birokrasinya super panjang.
  2. Korupsinya parah, di semua level kita itu doyan ngembat uang yang bukan milik kita
  3. Administrasinya buruk, sepertinya ini memang akibat dari korupsi yang parah, agar bisa dikorupsi maka administrasinya ya harus dibuat seburuk mungkin.

Nah, dilihat dari apa yang telah berjalan sepanjang waktu di negara kita. Harapan menjadi masyarakat demokrasi itu masih jauh. Sebab mayoritas masyarakat kita itu demen yang sentral-sentral dan imperial gitu kok. Makanya sangat senang dengan sistem kubu dan geng-gengan ketimbang melihat pemerintahan negara ini dari sisi fungsinya. Itulah mengapa dalam pileg dan pilpres, faktor kesamaan geng itu lebih menentukan ketimbang gagasan.

Dengan demikian, tidak perlu berharap banyak kepada negara dan pemerintah untuk saat-saat ini. Kita harus lebih giat mendidik anak-anak agar pintar matematika. Terutama agar mereka tidak terbiasa menggunakan standar ganda. Sebab standar ganda itu biasanya lahir karena matematika mereka buruk. Bukan sekedar buruk nilainya di kelas, tetapi penalaran matematikanya memang parah. Ditambah lagi moralitas yang buruk karena sifat serakah. Serakah ketemu nalar matematika rusak jadinya nggasrukan.

Surakarta, 19 Maret 2019

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.