Gerakan kiri dan Islam itu sebenarnya potensial menghasilkan pemimpin yang tidak terlalu pro oligarki.

Tapi kaum kiri sudah dihabisi tahun 1965, sisanya tiarap. Kaum Islamis nggak percaya diri, lebih senang nggamblok, karena lebih menguntungkan.

Lebih lucu lagi, saat ini umat Islam terbelah dua, masing-masing nggamblok pada kubu yang diusung oleh oligarki. Tokoh-tokoh Islamnya berdalil atas pilihannya.

Saya jadi agak cemas ketika umat Islam jadi tim hore kayak gini. Sebab dalam sejarah Islam, umat Islam itu terkenal nggak takut gelut. Kalau udah mantap, maka bertengkar pun tidak takut lagi.

Bahkan dalam sejarah sejak wafatnya Utsman bin Affan, sebagian umat Islam itu mau lho berperang dengan sesama muslim. Pasukan Ali dengan pasukan Muawiyah contohnya. Pasukan Yazid dengan pasukan Husain. Dll

Semoga di Indonesia, umat Islam yang kayak gitu nggak banyak. Semoga umat Islam semakin menyadari bahayanya jika bertengkar dengan sesamanya. Segera mundur teratur dari perkubuan politik yang sia-sia ini. Merekatkan kembali persaudaraan, syukur-syukur bisa melahirkan kembali Masyumi seperti di awal proklamasi kemerdekaan RI.

Sejarah sudah menjadi bukti, kehancuran peradaban Islam adalah karena dominasi politik dan perebutan kekuasaan dalam tubuh umat. Serangan pihak luar itu cuma semacam resepsi untuk menegaskan bahwa pertahanan umat sudah runtuh. Pihak luar mungkin turut berperan, tapi menyalahkan diri sendiri tentu lebih tepat agar kita bisa berbenah.

Surakarta, 22 Februari 2019

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.