Pemilu itu cuma cara berkompetisi meraih kekuasaan lho. Dari pada para caleg atau capres disuruh tarung sampai mati dan tinggal 1 yang hidup sebagai pemenang.

Yang lebih utama adalah bagaimana mereka diawasi. Jika menjadi aleg, bagaimana rakyat memiliki kendali pada aleg yang mewakilinya. Jika menjadi presiden/gubernur/bupati/walikota bagaimana mereka diawasi, baik lewat lembaga perwakilan atau langsung oleh rakyat.

Jadi sebenarnya pemilu itu ya harusnya biasa-biasa saja. Datang ke TPS, coblos sesukamu, salah satu pasti akan menang dan berkuasa. Yang harusnya dipikirin rakyat benar-benar itu, bagaimana mengawasi mereka yang sudah terpilih itu. Kan sudah terlihat di depan mata bagaimana kinerja anggota DPRD/DPR maupun bupati, walikota, gubernur, hingga presiden yang gitu-gitu aja.

Aneh sekali sebagian bangsa Indonesia ini, atos-atosan urusan pemilu, tapi abai urusan pengawasan. Bahkan seandainya kita itu golput ramai-ramai hingga cuma 20% yang milih, kan mereka tetap menjadi penguasa. Jadi, yang penting itu kan bagaimana mengawasi, bukan bagaimana memilih dan melantik. Namanya politisi itu ya jelas punya ambisi untuk memenangkan pertarungan. Masak iya, jadi rakyat mau mati-matian dukung di masalah begituan. Kesenengen politisine nu.

Nah, hingga hari ini, mekanisme rakyat mengawasi para anggota DPRD/DPR dan pentolan eksekutifnya belum jelas. Harusnya rakyat itu demo habis-habisan memblokir kantor-kantor DPRD dan gedung DPR/MPR untuk menekan para anggota dewan yang terhormat agar segera menyelesaikan amandemen konstitusi atau membuat undang-undang yang mengatur mekanisme pengawasan rakyat terhadap para elit yang mendapat mandat itu. Tapi nyatanya tidak terjadi. Rekor demo terbesar justru terjadi untuk urusan-urusan yang tidak berkaitan dengan persoalan mendasar bernegara.

Gek ngono kuwi piye? Rak yo mending sabar ngajari sesama rakyat agar ambil posisi rakyat. Masih besar PR-nya. Sebab mayoritas rakyat Indonesia mudah digoda para politisi untuk menjadi timses gratisan. Padahal rakyat ya rakyat, bosnya para pemegang mandat. Kok malah gelem-geleme diakali pol-polan. Dipalak pajek, diapusi nganggo janji. Preketek sekali kan.

Surakarta, 16 Januari 2019

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.