Mayoritas penguasa di negeri ini yang usianya 50 tahun ke atas itu biasanya terkait (baik langsung maupun tidak langsung) dengan hal-hal di seputaran 1965 dan rezim orde baru. Maka, mengharapkan mereka melakukan perubahan berarti dan mendasar bagi negara ini ya terlalu berlebihan.

Lebih baik yang muda-muda ini membangun pondasi kerakyatan di bidang masing-masing. Yang sekarang biarlah sejauh bisa diperbaiki ya diperbaiki, tapi tidak perlu menuntut berlebihan. Wong mereka sudah pusing dengan diri mereka dan kepentingan kelompoknya sendiri-sendiri kok.

Tidak harus semuanya turun di gelanggang politik praktis, sebab parpol-parpol sekarang juga masih dikuasai oleh golongan itu-itu juga di bawah payung Beringin yang agung. Yang jelas pada program-program positif yang dijalankan pemerintah, mari didukung dan semoga terus dilanjutkan meskipun kabinetnya silih berganti.

Rakyat itu fokus bernegara. Negara bisa gonta-ganti tim inti pemerintahannya. Jadi agar berkesinambungan, rakyatlah yang perlu mendorong agar hal-hal positif yang berjalan tetap dipertahankan. Undang-undang yang menguntungkan para elit parpol dan oligarkinya perlu digugat agar dibatalkan. Bila perlu beberapa amandemen perlu dihapus atau didekrit sekalian kembali ke UUD 1945 lagi.

Jadi tidak perlu berlebihan soal urusan gonta-ganti tim pemerintahan, toh sudah jelas tiap 5 tahun mengalami pergantian. Justru rakyat yang kebanyakan bergaduh baik pro petahana atau pro rival itulah yang lebih memberikan dampak kerusakan ketimbang para politisinya. Sebab mereka seharusnya bisa lebih kalem dan menimbulkan spekulasi bagi para politisi untuk lebih jeli menggaet mereka. Lha kalau belum pemilihan saja sudah pada setor dukungan, ya para elit enak banget tinggal memanfaatkan untuk kepentingan politik mereka.

Surakarta, 15 September 2018

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.